Turis low budget (part 5)

Tinggalkan komentar

BELANDA

Sesampainya di Amsterdam, kami langsung di antarkan menuju sebuah restoran cina untuk makan malam. Angin dingin yang sangat menusuk tulang langsung menyambut kami begitu turun dari bus. Segera saja gue menaikkan kerah coat dan langsung menyembunyikan kedua tangan di dalam kantong, kemudian menyelip di antara para peserta tur lainnya agar lebih hangat. Kami seperti segerombol ikan sardin yang sedang bermigrasi, bergerombol berjalan berdempet-dempetan, begitu terus hingga kami selamat dari terpaan angin malam di Amsterdam yang super kejam.
Selesai makan malam, kami langsung diantar menuju hotel untuk istirahat. Seperti biasa, artinya gue harus kembali berjuang dengan koper gorila dgue. Bedanya, tantangan kali ini adalah kami di turunkan bukan di lobby hotel melainkan pintu dari tempat parkir. Tega banget nggak sih. Bayangkan, dengan koper gorila itu gue harus berusaha mengangkatnye melewati beberapa anak tangga dan pintu (bukan pintu otomatis), sebelum masuk ke area lobby hotel.
Tapi untungnya ada Fajar yang bersedia membantu gue angkat-angkat si koper gorila hehehe. Tadi, begitu dia sudah berhasil memasukkan Kopernya dan koper ibunya ke dalam, dia langsung keluar lagi untuk membantu gue mangangkat koper ke dalam dan melewati rintangan terberat, yaitu beberapa anak tangga.
“Biar lo nggak kedinginan di luar,” katanya. “paling nggak kita masuk ke dalam dulu,”
Gue Cuma menyeringai pasrah sekaligus senang karena hanya harus mengangkat postman bag dan perintilan gue dari parkiran ke dalam.
Begitu kami sudah sampai di dalam, gue di suruh tunggu dulu sementara dia membawa kopernya dan koper ibunya ke lobby.
“Nanti gue kesini lagi bantuin lo,” ujarnya.
Gue menggeleng. “nggak usah, kan nggak ada tangga, gue bisa sendiri kok,” ucap gue sambil menari koper gorila berroda empat ini. “nih, gampang kok,”
Fajar hanya tersenyum, kemudian berjalan didepan gue dengan dua koper. Begitu bertemu dengan sebuah pintu, ia menahan pintu dengan sebelah kakinya untuk memudahkan gue lewat.
Hmm. Perilaku Fajar yang begini kadang bikin gue inget sama Adam. Iya, dia sangat sopan, santun, dependable, well-mannered, dan berbagai karakter calon menantu idaman lainnya. Kalau gue lagi susah dan rempong begini pasti dia akan bantu. Untuk hal yang ini, nggak berubah bahkan di saat terakhir sebelum kami putus. Masih sangat berusaha menjaga kata-katanya, supaya nggak menyakiti gue. Sifat Adam yang begini yang kadang membuat gue berusaha tidak memikirkan hal-hal jelek yang terjadi di hubungan gue dengan Adam. Membuat gue menyangkal kalau hubungan gue dan dia sudah tidak berfungsi. Dan pada akhirnya membuat hubungan gue bertahan begitu lama, walaupun ternyata di dalamnya sudah hampir kosong. Hanya karena gue tidak mau kehilangan Adam si laki-laki baik yang bisa diandalkan.
Hhhh. Adam lagi.
Mau sampai kapan sih Sha, semua hal, semua orang, dikait-kaitkan sama Adam? Kalau begini caranya, sampai nenek-nenek juga lo nggak bisa move on. Dasar tulil.
Ah ya sudahlah, bersyukur aja.
Terimakasih ya Allah telah menciptakan teknologi bernama Fajar di hidupku saat ini. Lho kok? Hehehe. 

***

Setelah sarapan dengan porsi yang berlebihan, gue langsung merapatkan coat, membebatkan syal sampai nggak ada rongga tersisa buat angin menyelinap masuk, dan kemudian langsung masuk ke dalam bus. Pagi ini kami akan diantarkan menuju desa nelayan Volendam. Biasanya kebanyakan turis yang datang ke Belanda pasti akan datang ke Volendam dan mengabadikan diri mereka, berfoto menggunakan pakaian tradisional Belanda.
Kesan pertama gue begitu bus kami memasuki area Volendam adalah seperti masuk ke dunia khayalan. Ya, rumah-rumah di Volendam kelihatannya kecil-kecil dan tidak nyata. Jalanannya juga sempit-sempit. Rasanya seperti masuk ke studio dimana rumah-rumah hanya digunakan untuk keperluan shooting. Rumah-rumah disini tampak seragam, bentuknya mirip-mirip, hanya saja berbeda-beda warna. Ada satu bagian jalan di Volendam yang berbatasan langsung dengan laut, sehingga jika kita melihatnya dari dalam bus yang tinggi, kita bisa melihat langsung lautan lepas di sebelah kiri, dan rumah-rumah penduduk di sebelah kanan yang lebih rendah dari jalanan. Rasanya aneh sekaligus ngeri. Setelah dipikir-pikir, bayangkan saja, negara ini kebanyakan areanya berada di bawah permukaan laut. Pantas saja kata Teteh (kakak gue yang tinggal di Belanda), semua anak di Belanda, di usia 4 tahun ada tes berenang, mereka dipastikan harus dapat menyelamatkan diri jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Menarik ya?
Well, setelah turun dari bus, benar saja kami di berikan waktu untuk berfoto studio menggunakan pakaian tradisional Belanda. Bagi keluarga yang ingin berfoto, Hendra akan membantu prosesnya, sementara yang tidak ingin berfoto dipersilakan bebas berkeliling Volendam sebelum kami kembali berkumpul untuk makan siang bersama. Waktu bebas yang cukup panjang gue manfaatkan untuk mengambil foto di daerah yang menggemaskan ini. Gue dan Teh saling bahu-membahu bergantian mengambil foto bergantian. Kami menyusuri jalan-jalan kecil sambil sesekali berfoto di depan bangunan atau rumah yang lucu. Kami juga sempat melihat-lihat beberapa souvenir yang berharga cukup miring untuk di jadikan oleh-oleh.
Ketika sudah merasa cukup puas berkeliling, gue dan Teh Tita kembali ke tempat kami pertama datang, namun karena belum semua peserta berkumpul, maka gue memutuskan untuk jajan. Kali ini pilihan gue dan Teh Tita jatuh kepada seporsi poffertjes dengan gula halus dan dua cone es krim vanilla. Poffertjes asli Belanda bentuknya berbeda dengan poffertjes yang sering kita temui di Jakarta. Jika kita terbiasa dengan poffertjes yang berbentuk nyaris bulat sempurna, maka jangan bingung, di sini poffertjes berbentuk oval dan gepeng warnanya pun tidak cokelat muda cantik sempurna, melainkan agak cokelat muda kekuningan yang tidak merata. Gula yang diberikan tidak basa-basi, saking banyaknya, ketika angin bertiup maka bersiap-siaplah rambut akan tampak ubanan karena gula di piring hampir semuanya berpindah ke rambut.
Setelah semua peserta berkumpul, kami segera masuk ke dalam sebuah restoran untuk makan siang.
“Ya Allah, indah banget disini, hangat,” ujar Teh Tita degan wajah yang sangat lega. Ia kemudian melepas coat beserta syalnya, kemudian menghempaskan diri di kursi.
Gue mengangguk. “Indah banget Teh, tangan gue hampir beku kayaknya bentar lagi kalau nggak masuk sini,” gue kemudian segera melepas peralatan perang melawan dingin gue, kemudian segera duduk di sebelah teh Tita dan merapat agar bisa lebih hangat.
Tak lama, makanan kami datang. Sepotong besar ikan entah apa yang tampaknya di goreng dengan tepung, dan baby potato yang tampaknya di panggang dengan sedikit bumbu dan minyak. Entahlah. Yang gue tau rasanya enak. Tidak banyak bumbu, tidak banya rasa, hanya garam dan merica sebagai bumbu tambahan, tapi ikan dan kentang ini enak. Beneran deh. Ikannya segar, kentangnya juga seperti terpanggang dengan sempurna, rasanya cukup, tidak enek dengan bumbu. Ah, makan siang yang indah.
Selesai makan enak dan puas bermain di Volendam, kami kembali ke Amsterdam. Dalam perjalanan kembali ke Amsterdam, kami menyempatkan diri untuk berfoto di depan kincir angin khas Belanda, tetapi karena dikejar-kejar waktu, kami hanya berfoto sekedarnya dan langsung melanjutkan perjalanan menuju Amsterdam. Pertama-tama kami dipersilakan untuk menaiki canal cruise. Kami menaiki sebuah kapal dengan atap kaca yang tidak terlalu besar, lalu kami akan mengelilingi kota Amsterdam melalui kanal-kanal besar yang ada. Amsterdam memang terkenal dengan kanal-kanal besar yang banyak terparkir rumah-rumah kapal. Gue pikir rumah kapal ini Cuma pajangan, tapi ternyata kapal-kapal ini benar-benar di jadikan tempat tinggal bagi sebagian warga Amsterdam.
Perjalanan menaiki canal cruise ini sebenarnya agak membosankan bagi gue, karena dengan waktu yang cukup lama, kami hanya bisa melihat Amsterdan dari dalam kapal kecil ini. Selain itu, nggak banyak juga yang bisa dilakukan di dalam kapal. Selain karena ukuran kapal yang kecil, atap kapal yang tertutup kaca juga membatasi ruang gerak jika kita ingin mengambil foto dengan leluasa. Oh, dan pemandangan yang kita lihat juga nggak bisa terlalu banyak, karena kita berada di dalam kanal, dan bangunan-bangunan yang menjadi objek wisata berada di sisi atas kanal, sehingga seringkali kita nggak bisa melihat bangunannya dengan utuh dan jelas. Terbukti gue agak hampir ketiduran di tengah perjalanan dan penjelasan dari rekaman yang bahasanya tidak jelas.
Selesai tur menaiki canal cruise, kami diantar menuju Dam square. Di sini kami di berikan waktu bebas untuk melihat-lihat pusat kota Amsterdam. Kebanyakan peserta tur menghabiskan waktunya untuk berbelanja oleh-oleh karena mereka sebentar lagi akan pulang ke Indonesia. Gue tidak berencana membeli oleh-oleh apapun karena gue masih memiliki waktu hampir 3 bulan di Belanda. Kali ini gue dan Teh Tita terpaksa berpisah karena beda visi dan misi. Teh Tita harus membeli oleh-oleh, sementara gue tidak memiliki urgensi untuk membeli oleh-oleh. Akhirnya kami berpisah. 
Cukup dengan dramanya. Gue akhirnya memutuskan berkeliling sekitar dam square dan menjadi fakir foto. Gue meminta kepada siapa saja yang lewat, untuk mengambilkan foto gue di depan objek yang gue inginkan. Pada awalnya gue juga berencana untuk mencari red light district. Gue cukup berani mencari daerah itu sendiri karena ini masih siang, tetapi pada akhirnya gue terlanjur dipanggil lagi oleh Hendra sebelum gue berhasil mengeksplorasi red light district. Padahal sejengkal lagi sepertinya gue sudah sampai ke sana. Ternyata gue menghabiskan waktu yang cukup lama untuk berkeliling dan berfoto-foto di sekitar dam square sendirian.
Kami kemudian langsung melanjutkan perjalanan kami menuju area museumplein atau kalau dalam bahasa Inggris bisa disebut Museum Square. Katanya daerah ini dinamakan museumplein karena terdapat beberapa museum disini, misalnya rijksmuseum, van gogh museum, dan diamond museum. Disini kami akan mengunjungi sebuah pabrik berlian, untuk melihat proses pembuatan berlian dan belanja berlian bagi yang berminat.
Ya kali, gue belanja berlian. Semacam bersin keluar duit ya gue, belanjanya berlian, bukan baju atau sayuran.
Sesuai perkiraan, gue dan teh Tita keluar di tengah presentasi proses pemotongan batu intan sebelum menjadi berlian karena bosan. Kami akhirnya membuat janji dengan Hendra untuk kembali ke pabrik berlian tepat pada waktunya setelah jalan-jalan di sekitar museumplein. Begitu keluar dari pabrik berlian, kami langsung kembali menjadi turis yang bahagia.
Museumplein ini cantik lho, untuk dijadikan objek foto-foto. Selain karena ada beberapa bangunan museum yang antik, di tengah area museumplein ini juga terdapat taman luas dengan kolam besar berbentuk oval di tengahnya, pohon-pohon yang berjajar rapi, kafe-kafe kecil, dan bangku-bangku taman.
“Nah, kalau dari tadi kita main kesini kan nyenengin,” ucap Teh Tita ketika kami berdua duduk-duduk di bangku taman.
“Iya,” balas gue meyetujui. Gue kemudian meluruskan kaki setelah cukup pegal berkeliling area museumplein. “nggak sia-sia gitu ya, tur kita,”
Teh Tita mengangguk. “Gue pikir kita bakal ke rijksmuseum, eh taunya lagi-lagi Cuma lewat doang. Yang dimasukin malah pabrik berlian. Ngapain coba?”
“Kurang paham gue juga, Teh,”
“Menurut lo nanti ada yang belanja berlian nggak?” tanya Teh Tita tiba-tiba.
Gue terkikik. “Mungkin aja sih, kalau di lihat dari pola belanja si tante-tante,” gue menguncir ulang rambut gue yang sudah berantakan sambil melanjutkan, “yah tapi kalaupun nggak berlian paling nggak pasti tetap ada yang di beli,”
Teh Tita mengangguk setuju. “Mungkin beli kristal swarovski. Lo liat kan tadi ada di lantai bawah?”
“Yoi. Mungkin banget sih, beli swarovski. Hahahaha,”
“Kayaknya yang belanja berlian belum ada tanda-tanda selesai, nih.” Ujar teh Tita sambil melihat ke arah pabrik berlian.
Gue mengangguk setuju.
“Ke sana yuk Sha,” Teh Tita menunjuk ke sebuah toko suvenir kecil. “Siapa tau ada yang lucu-lucu,”
“Yuk,”
Belum lama kami melihat-lihat barang di toko souvenir yang ternyata mayoritas barang-barangnya adalah souvenir van gogh museum, Hendra sudah memanggil kami untuk bersama-sama kembali ke bus untuk diantarkan makan malam. Menu makan malam terakhir kami di Belanda adalah makanan Indonesia.
Apa-apaan deh nih.
Gue nggak ngerti konsep harus makan makanan Indonesia ketika sedang tur ke luar negeri. Maksud gue, kita ini sedang berlibur ke negeri orang, bukannya kita seharusnya juga mencoba makanan khas daerah yang kita kunjungi? Bisa aja sih kalau alasannya untuk melepas kangen dengan masakan Indonesia. Tapi masalahnya, Belanda kan negara terakhir yang dikunjungi di tur Eropa ini, berarti besok juga mereka akan kembali bertemu dengan masakan Indonesia kan? Terus apa urgensinya kita makan masakan Indonesia di sini?
Gue gagal paham.
Tapi baiklah, gue akhirnya tetap makan rendang, gado-gado dan kerupuk udang yang disajikan. Rasanya? Biasa aja. Nggak berkesan. Sebel.
Seusai makan malam, kami di antarkan kembali ke Hotel oleh Luca. Rupanya malam ini adalah malam terakhir kami bersama Luca. Besok pagi, akan ada bus dan pegemudi lain yang akan mengantar peserta tur ke bandara Schiphol. Jadilah sebelum turun ke hotel, kami semua bersalam-salaman sebagai bentuk perpisahan dengan Luca.

“Sha,” ujar Teh Tita ketika kami sudah kembali ke kamar dan membereskan seluruh barang-barang kami.
“Mm..’ jawab gue sambil terus menekan-nekan space maker, sebuah kantong untuk mengepak baju yang bisa ditekan dan di keluarkan udaranya. Sehingga koper bisa menyimpan lebih banyak barang di dalamnya. Ini adalah salah satu teknologi yang wajib dimiliki para turis.
“Jangan lupa-lupa lo sama gue kalau nanti udah pulang ke Jakarta,” lanjut Teh Tita sambil mengeluarkan berbagai oleh-oleh yang baru dibelinya, dan menyelipkannya di antara baju-baju.
“Ya nggak lah Teh,” gue menjawab, kini sambil menduduki kantong space maker yang hampir benar-benar kosong tanpa udara. “Teteh juga lho, jangan lupa cariin gue pacar, eh calon suami lebih bagus deh. Tapi inget ya teh kriterianya,”
“Apaan? Sejak kapan ada kriterianya?”
“Ada. Gampang sih,” gue mengangkat kantong space maker gue dan memasukkannya ke dalam koper. “Gue Cuma mau yang seiman, tampan, mapan, budiman. Gampang kan?”
Teh Tita mendengus. “Banyak mau ya lo,”
Gue hanya menyeringai dan kembali berkutat dengan koper.

Gue dateng jam 10 yah, lo nunggu sebentar nggak apa-apa kan?
Teteh mengirimkan pesan lewat WhatsApp messenger.
Ok.
Gue membalas singkat.
Untungnya gue memutuskan untuk sarapan setelah peserta tur yang lain sudah berangkat ke bandara untuk pulang ke Indonesia, jadi gue ada kegiatan sambil menunggu teteh menjemput gue di hotel.
Para peserta tur berangkat jam 9 pagi menuju bandara, sehingga mereka sudah harus bangun jam 7 pagi dan sarapan mulai jam 8 pagi. Gue yang tidak terburu-buru memutuskan untuk bangun lebih siang dan membiarkan Teh Tita bersiap-siap lebih dulu. Gue baru selesai mandi ketika Teh Tita turun untuk sarapan.
“Gue turun sarapan duluan yah Sha,” ujar Teh Tita sambil menarik koper besarnya keluar kamar.
“Iya duluan aja Teh, nanti ketemu di Lobby yah,” balas gue dari balik pintu kamar mandi.
Gue mendengar pintu tertutup, kemudian gue keluar dari kamar mandi dan mulai bersiap-siap.
Ketika gue turun, semua tampak sudah selesai sarapan dan berkumpul di Lobby hotel. Kami kemudian bersalaman, berpeluk-pelukan sebagai bentuk perpisahan dengan gue. Setelah memberikan pin blackberry dan username Facebook pada Fajar, yang di tugaskan para Tante untuk membuat group tur kami di blackberry messenger dan Facebook, gue mengikuti mereka ke luar.
“Lo beneran di jemput kan Sha?” Teh Tita memastikan kembali sebelum ia masuh ke dalam bus.
“Bener Teh, kakak gue udah jalan kok dari rumahnya, palingan satu jam lagi juga sampai,” jelas gue.
“oh gitu, “ Teh Tita menghela napas. “Ya udah kalau gitu hati-hati ya Sha,”
Gue mengangguk.
“Sampai ketemu lagi yah sayangku,” Teh Tita kemudian memeluk gue dan menaiki tangga untuk masuk ke dalam bus. “kalau udah di jemput sms gue ya,”
“Iyeee, bawel ah,” gue terkikik sambil melambaikan tangan menyuruhnya masuk ke dalam bus.
“Hati-hati yah Sha,” Fajar menepuk bahu gue. “sampai ketemu lagi ya,” ia tersenyum kemudian masuk ke dalam bus.
“E, eh,” gumam gue ketika kaki gue terantuk trotoar yang ada di pinggir bus pada saat gue berjalan mundur menjauhi pintu bus.
“Kesadung?” ucap Fajar yang tampak masih tersenyum di pintu bus, melihat gue yang mencoba menjaga keseimbangan dengan merentangkan kedua tangan gue.
Gue hanya menyeringai malu sekaligus salting. “eh, hehe. Yaah, gitu deh kurang lebih,”
Fajar balas tertawa tanpa suara, kemudian melambaikan tangannya dan masuk kedalam bus.
Setelah mereka semua masuk ke dalam bus, gue hanya bisa melambaikan tangan dari luar sambil menahan dingin (karena dengan sotoynya, gue tidak memakai coat gue dan hanya memakai selapis baju hangat).
Teh Tita tampak melambaikan tangan dengan wajah sedih. Ia kemudian berucap tanpa suara, “Jangan lupa sms kalau dijemput,”
Gue mengangguk mengiyakan.
Dan kemudian bus pergi meninggalkan gue sendirian di Amsterdam. Sedih banget yah kayaknya. Gue agak melamun sebelum kemudian terdengar konser musik rock dari dalam perut gue.
Oh iya, gue belum sarapan.
Akhirnya gue segera menuju restoran yang disediakan untuk sarapan.

TING TUNG
Ada bbm masuk.
Gue kemudian meletakkan sendok yang baru saja gue pakai untuk menyuapkan sepotong panekuk ke mulut gue.
Fajar?

Jangan lupa sarapan dulu Sha, sebelum pulang.

Gue sempat bingung sebelum kemudian membalas,

OK Jar, Thank you. 

Baik juga si Fajar.
Duh. Yang begini-begini nih mungkin banget dilakukan sama Adam. Soalnya dia kan orangnya tipe yang-
Dasha! Stop!

Tapi by the way, kenapa si Teteh belum ngabarin lagi sih? Jangan-jangan dia lupa jemput gue, lagi. Ini udah jam berapa sih?
Oh, masih jam 9.15.
Baiklah, panekoek dilanjut sereal kayaknya masih bisa nih.

Jam sepuluh kurang limabelas akhirnya gue memutuskan untuk turun dan menunggu di lobby bersama koper gue yang berukuran sebesar gorila dan postman bag gue yang tampak hampir meledak. Gue menunggu di sofa-sofa berwarna merah di dekat resepsionis sambil membaca sebuah novel yang gue bawa dari Jakarta. Angin dingin terasa menelusup setiap kali ada orang yang kluar masuk melewati pintu lobby. Akhirnya gue memutuskan untuk memakai coat gue walaupun berada di dalam ruangan. Lebih baik di bilang aneh daripada kedinginan.
Setelah menunggu sekitar 25 menit, akhirnya ada orang yang menepuk bahu gue,
“Teteeeh!!” gue menutup novel yang sedang gue baca dan langsung memeluk teteh, dan kemudia menyadari ada yang mengganjal diantara kami.
“anak guee!!” Teteh berteriak panik sambil menahan tubuh gue agar tidak terlalu rapat.
“Apaan sih?” gue melepaskan pelukan gue, menundukkan kepala, dan kemudian menyadari ada sesuatu di antara kami.
Sepasang mata bulat menatap gue sambil mendongak.
“Ah, EIJAAZZZ!!!”

eijaz

Turis low budget (part4)

Tinggalkan komentar

PERANCIS

Setelah upaya bunuh diri gue di sungai Reuss berhasil dihentikan teh Tita (lagi-lagi gue dan drama gue), kini saatnya kami melanjutkan perjalanan menuju Paris. Ya, paris. Katanya Paris itu romantis. Kota yang penuh cinta gitu deh. Kalau begitu gue harus segera siap-siap menahan dorongan untuk bunuh diri akibat galau. Mungkin gue harus kasih peringatan ke Teh Tita dari sekarang.
Sesampainya di Paris, Luca segera membawa kami menuju sungai Seine, karena malam ini kami akan menaiki kapal bateaux mouches, sebuah kapal yang berukuran cukup besar yang mampu menampung ratusan orang, dengan tempat duduk bagian atas yang terbuka dan bagian bawah yang tertutup. Kapal ini akan melintasi sungai Seine, dan akan membawa kami menikmati keindahan kota Paris di malam hari. Gue dan Teh Tita segera menaiki tangga untuk mendapatkan posisi terbaik di lantai dua kapal beratap terbuka ini. Angin besar segera menerpa rambut gue dan sukses membelah poni gue dan membentuk belah tengah sempurna a la Nick Carter, di rambut gue.
Angin memang berhasil membelah poni gue dengan sukses, tetapi tampaknya sekencang apapun angin di atas kapal ini berhembus, ia tidak akan bisa memisahkan para pengantin baru yang sedang sibuk menghangatkan tubuh masing-masing dengan cara menempel pada pasangannya. Para istri tampak menyandarkan kepala di bahu suaminya, sementara sang suami tampak merangkul bahu istri, sambil sesekali membelai rambutnya atau bahkan mengecup dahinya.
“Teh, pindah agak depanan yuk duduknya,” ujar gue pada Teh Tita setelah tak sanggup lagi melihat pertunjukan banjir kasih sayang ini.
Teh Tita hanya mengangguk dan langsung berjalan- bahkan nyaris berlari- ke tempat duduk di deretan depan. Setelah pindah ke depan, gue dan teh Tita akhirnya bisa berkonsentrasi dengan pemandangan di sekeliling sungai Seine yang tampak cemerlang tertimpa cahaya lampu yang kontras dengan gelapnya malam di Paris. Kapal kami melintasi berbagai ikon kota ini, seperti misalnya Louvre museum, Notre Dame, menara Eiffel, dan Palais de Chaillot.
Setelah bergantian berfoto dengan latar belakang bangunan-bangunan itu, gue dan Teh Tita mulai asyik dengan kegiatan kami masing-masing. Kami mulai tidak mengobrol dan sibuk dengan lamunan kami sambil sesekali mengambil gambar dengan kamera masing-masing. Beberapa kali gue menoleh ke belakang dengan maksud memperhatikan bangunan yang sudah terlewat, tapi malah tak sengaja melihat para pengantin baru bercanda-canda mesra dengan pasangan masing-masing. Sepintas gue melihat mbak Tantri dan Mas Ferdi- salah satu pasangan pengantin baru di tur kami- sedang tertawa-tawa berdua. Sesekali Mbak Tantri tampak iseng mencubit-cubit lengan Mas Ferdi, kemudian menyandarkan dahinya di belakang bahu Mas Ferdi. Tak lama kemudian ia mendongakkan wajahnya, dan kemudian Mas Ferdi mengacak poni Mbak Tantri dengan tatapan penuh sayang.
Gue kembali menghadap depan. Tatapan gue memang ke arah berbagai bangunan yang dilewati bateaux-mouches, tetapi sebenarnya pikiran gue sedang berjalan-jalan ke beberapa tahun yang lalu. Dulu gue dan Adam juga sering begitu. Gue sering banget menyandarkan dahi gue ke belakang bahu Adam untuk ngetek, dan Adam juga hobi mengacak poni gue ketika dia gemas dengan perilaku gue. Nggak lupa dengan tatapan penuh sayang, dong. Kebiasaan gue dan Adam itu bertahan cukup lama kok, paling tidak selama 3 tahun pacaran, semua orang mengakui konsistennya interaksi-penuh-sayang kami. Sampai akhirnya di tahun terakhir pacaran kami, adegan acak poni memang berkurang secara signifikan. Apalagi tatapan penuh sayangnya.
Hhhh.. Adam..
“Kemaren udah mau nyemplung ke sungai Reuss,” ucapan Teh Tita tiba-tiba mengaburkan lamunan gue. “gue curiga hari ini mau nyemplung juga ke sungai Seine,” lanjutnya. “ck ck ck.. jangan galau-galau ah. Umur 23 udah nggak pantes galau, Dash. Pantesnya juga cari suami, terus bulan madu deh ke Paris,”
“Teteeeh…” gue mulai meratap dan menggaruk-garuk lantai kapal.

Malam ini Luca tidak menjemput kami setelah kami selesai berwisata dengan bateaux-mouches. Jam kerja para pengemudi bus yang tidak boleh melebihi 12 jam, membuat kami di jemput oleh pengemudi dan bus lain. Begitu semua peserta dipastikan menaiki bus, kami pun melaju menuju menara Eiffel. Ini memang tidak ada dalam jadwal tur, tetapi keinginan para peserta untuk menaiki menara Eiffel di malam hari berhasil mengubah jadwal tur kami.
Karena kami telah meminta kepada Hendra sejak siang, maka malam ini kami bisa masuk menara Eiffel tanpa harus mengantri panjang seperti para turis lainnya. Rupanya Hendra telah mengatur dan memesan tiket untuk grup kami semenjak siang tadi. Inilah untungnya pergi bersama grup, banyak hal yang bisa dipermudah oleh para tour guide sehingga kita hanya tinggal terima hasil dengan senang.
“Cantiknya…” Teh Tita bergumam dengan kagum sambil sesekali mengambil foto dengan kamera sakunya. “Sha, fotoin gue dong,” Gue kemudian mengambil foto Teh Tita dari tingkat kedua menara eiffel ini.
Angin kencang dan udara yang super dingin ini sukses membuat semua foto gue dan Teh Tita tampak sedang diterpa badai, dengan hidung merah dan mata yang menyipit menahan angin dingin. Disaat kami sedang asyik berfoto, tiba-tiba lampu eiffel berkedip-kedip cemerlang.
“Wah, kalau kita lagi di bawah pasti bagus banget nih Sha, backgroundnya. Eiffel ada kelip-kelip lampunya,” gumam Teh Tita sambil memandang lampu-lampu yang berkelip dengan tatapan kagum.
“Ah, gue sih begini aja udah seneng, Teh,” gue berucap sambil berkali-kali mengambil gambar dari atas menara Eiffel yang cantik ini.
Akhirnya setelah puas mengambil banyak foto plus berfoto-foto narsis bersama Teh Tita dari atas menara Eiffel, kami semua berjalan menuju bus untuk kembali ke hotel. Ternyata di saat menunggu para peserta berkumpul, menara cantik itu tiba-tiba kembali berkelip. Langsung saja gue dan Teh Tita saling bergantian mengambil foto satu sama lain dengan sigap.
Dan ketika kami berdua berjalan riang menuju bus, disanalah kami melihat (lagi-lagi) Mbak Tantri dan Mas Ferdi sedang berfoto berdua, di depan menara Eiffel yang berkelip. Tebak pose apa yang kemudian mereka lakukan?
They kissed.
In front of Eiffel Tower. In front of me.
Naik lagi ke tingkat dua menara Eiffel. Kemudian terjun.

Tur di kota Paris ini bisa dibilang sangat kilat. Dua malam di Paris, tetapi hari ke tiga harus sudah berangkat menuju Brussels, Belgia. Ya sudah, alhasil siang ini dihabiskan untuk mengelilingi kota Paris di dalam bus sambil sesekali turun untuk berfoto, dan kemudian sore hari akan digunakan untuk shopping di galeries Lafayette, pusat perbelanjaan yang super terkenal itu. Bukan jenis tur yang gue inginkan.
Pagi hari kedua di kota Paris ini sangat cerah, dengan suhu 14 derajat dan sinar matahari yang menyenangkan. Kami semua langsung di ajak untuk berfoto di lokasi yang –menurut Hendra – paling tepat dan paling bagus untuk bergaya dengan latar belakang menara Eiffel. Di seberang lapangan berrumput hijau ini, kami semua gantian berfoto dengan latar belakang menara Eiffel. Setelah puas berfoto dan menikmati Eiffel di siang hari, kami segera di bawa untuk berfoto di depan Arc de Triomphe, sebuah monumen patriotik di bagian barat Champs-Elysees (salah satu jalan paling terkenal di Paris, dengan deretan café dan toko-toko eksklusif di sepanjang jalannya). Seperti berlomba-lomba dengan waktu, kami benar-benar hanya dapat berfoto seperlunya di depan Arc de Triomphe, setelah itu kami langsung kembali ke bus untuk diantarkan ke restoran untuk makan siang.
Selepas makan siang, kami diantarkan berkeliling untuk melihat, sekali lagi saya ulangi, melihat, berbagai bangunan ikon kota Paris. Ya, karena keterbatasan waktu, kami hanya dapat melakukan city tour dari dalam bus. Kami melewati Louvre Museum, Des Invalides, Opera House, Palace de la Concorde, dan juga Champs Elysees. Udah sampai di Paris dan gue bahkan nggak turun di Champs Elysees.
Baiklah. Nggak apa-apa.
Setelah sore, akhirnya kami di antarkan menuju Galeries Lafayette, pusat perbelanjaan paling hits di Paris. Kami diberikan waktu bebas selama beberapa jam di sini, supaya bisa puas shopping, katanya. Entah apa juga yang mau gue belanjakan di sini. Katanya untuk beberapa merk yang berasal dari Perancis, di sini memang lebih murah.
Akhirnya setelah puas berfoto-foto di jalanan depan Galeries Lafayette, gue dan teh Tita memutuskan untuk masuk dan melihat-lihat. Yang pertama kami sambangi adalah konter Louis Vuitton yang di hebohkan semua orang. Entah mengapa antrian di Louis Vuitton ini tidak semengerikan cerita orang-orang. Memang sih ramai, ada antrian, tapi masih manusiawi. Begitu kami datang, tak lama langsung ada yang melayani kami. Super hoki kalau kata Teh Tita.
Katanya, banyak orang yang katanya merasa nggak PD masuk konter ini kalau memang nggak ada uang atau nggak ada rencana membeli. Tapi buat gue, masuk sih masuk aja, nggak ada yang namanya minder. Kalau kata nyokap gue, walaupun nggak ada uang ataupun nggak ada rencana beli, yang penting masuk dengan modal PD. Akhirnya setelah menegakkan punggung dan menengadahkan dagu, gue dan Teh Tita masuk ke konter Louis Vuitton, lihat-lihat, tunjuk sana tunjuk sini, coba-coba sedikit, kemudian keluar lagi dengan sukses tanpa kantong belanja.
Setelah memuaskan penasaran di konter Louis Vuitton, gue dan Teh Tita melanjutkan kegiatan jalan-jalan kami ke konter yang lebih manusiawi, Longchamp. Awalnya gue bertanya pada seorang petugas keamanan, kurang lebih begini percakapan kami:
“Mas, longsham dimana ya?” tanya gue kepada mas petugas keamanan.
Si petugas keamanan tampak bingung.
“longsham, mas,” ulang gue perlahan.
Si petugas keamanan tampaknya baru menyadari maksud gue, “Oh! LONGSHONG! Itu di sebelah sana mbak,” ujar si petugas keamanan sambil menunjuk ke sebuah lorong di sebelah kiri gue.
“Oh, makasih yah mas,” gue dan teh Tita kemudian langsung berjalan ke arah yang di tunjuk sang petugas keamanan.
“Longshong ternyata bacanya, Sha,” ujar Teh Tita sambil menahan tawa.
Baiklah, jadi ternyata Longchamp yang biasanya di Indonesia di baca Longsham atau bahkan Longchem, ternyata harusnya dibaca longshong. Longshong bro. Oke deh.

Setelah membeli beberapa tas Longchamp titipan ibu dan Teteh (ini Teteh gue beneran, yang tinggal di Belanda), gue dan teh Tita langsung menuju ke lantai -1 untuk berburu macarons. Katanya di galeries Lafayette ini ada toko macarons yang terkenal, namanya Pierre Hermé. Begitu sampai disana, gue dan teh Tita sempat shock dengan harga satu pak macarons. Bayangkan saja, satu kotak macarons isi 12, harganya €26.50. Tapi nggak apa-apa, yang penting kan kita harus coba. Gue membayar di kasir sambil menitikkan air mata tak rela. Hampir 30 euro hanya untuk 12 kue yang meleleh begitu masuk mulut.
“Tapi ini enak banget sih Sha,” ujar Teh Tita dengan wajah terharu setelah melahap sebuah macarons rasa Vanilla karamel.
“Iya sih,” balas gue sambil menikmati rasa cokelat kopi yang lumer di dalam mulut gue.
“Pantesan kakak lo sampe nitip beginian dari Paris,” lanjut teh Tita sambil menutup kotak macarons dan memasukannya kembali ke dalam kantong.
Setelah puas berbelanja macarons dan berkeliling galeries Lafayette, gue dan Teh Tita kemudian menunggu di tempat duduk yang tersedia dekat lokasi tax refund. Kira-kira sudah 30 menit gue menunggu, tante-tante dan para peserta tur yang lain masih belum selesai berbelanja. Akhirnya gue dan Teh Tita memutuskan untuk berjalan-jalan ke luar, karena Teh Tita harus menukarkan beberapa uang USD-nya ke Euro. Selesai menukar uang, gue dan Teh Tita kembali ke dalam, dan menemukan semua orang sudah berkumpul di tempat tadi gue menunggu. Bedanya, mereka membawa kira-kira lima ribu kantong belanja. Mulai dari Longchamp, Guy Laroche, Furla, Burberry, Louis Vuitton, Bally, Prada, Gucci, dan juga Tod’s.
Baiklah. Teori bahwa orang Indonesia itu gila belanja ternyata memang terbukti benar. Kayaknya orang-orang ini nggak bisa ngeliat barang apapun di jual deh. Pasti bawaannya pengen beli.
Selesai berheboh ria dengan tax refund, kami semua kembali di antar ke restoran tempat kami makan malam. Ceritanya kami dapat bonus makan siang hari ini, jadi seluruh kegiatan makan, hari ini ditanggung travel. Mantap.
Selesai makan malam, gue dan Teh Tita keluar dari restoran mendahului para peserta lain demi mencoba crepes yang kami lihat di pinggir jalan. Katanya, sudah sampai di Paris tapi nggak mencoba crepes tuh dilarang. Akhirnya gue dan Teh Tita makan secukupnya saja di restoran cina tadi, dan segera melesat ke kedai crepes yang sebelumnya sudah kami lewati dalam perjalanan menuju restoran. Kami memutuskan untuk memesan hanya seporsi crepes untuk berdua, setelah melihat porsinya yang terlalu gembrot kalau dimakan sendiri. Seporsi crepes isi nutella dan pisang seharga € 4.00 sudah di tangan. Ternyata crepes asli Perancis berbeda dengan crepes yang sering kita temui di Jakarta. Disini, crepes ukurannya besar, mungkin sekitar 1,5 kali crepes di Jakarta, dan teksturnya lembek, seperti crepes dingin untuk diisi es krim. Rasanya? Jangan ditanya. Endessss. Efek samping? Di jamin gembrot.
Setelah puas membahagiakan perut, kami kembali ke bus dan bersiap untuk kembali ke hotel. Dengan diantarnya kami kembali ke hotel setelah makan malam, artinya perjalanan kami di Paris sudah selesai. Belum puas sih, tapi gue cukup senang kok. Karena gue belum puas, mudah-mudahan suatu hari nanti gue bisa kembali lagi ke Paris dan mengunjungi lebih banyak tempat lagi. 

Turis Low-Budget (part3)

Tinggalkan komentar

SWISS

Hari ini akan diisi dengan perjalanan menuju Brunnen, Swiss. Kami akan istirahat dan bermalam di Brunnen sebelum besok berangkat menuju gunung Titlis. Gue yang saking semangatnya mau ketemu salju, udah siapin jaket yang anti angin dan basah untuk main salju di gunung Titlis. Semua peralatan main salju gue sudah siap. Jaket, penutup telinga berbentuk bandana, sarung tangan dan kaus kaki wol, dan boots hangat (yang sama dengan yang gue pakai selama tur). Yang gue takutkan Cuma 1. Gue itu dari kecil agak hobi mimisan kalau ketemu udara yang terlalu dingin. Kan agak malu juga ya, kalau ketemu salju malah mimisan.
Kenalkan, nama saya Dasha si anak norak.

Kesan pertama gue masuk ke dalam hotel ini adalah: Lapuk amat?
Begitu masuk ke lobby hotel, ada seorang resepsionis perempuan yang menyambut Hendra. Ia kemudian menyiapkan kunci-kunci kamar untuk kami, sebelum kemudian Hendra membagikan kunci pada kami dan memberi tahu ruangan untuk makan malam.
Gue dan Teh Tita segera gerak cepat menyambar kunci dari tangan Hendra dan melesat menuju lift, sebelum dipenuhi oleh peserta tur lainnya.
“Astaghfirullah,” ujar teh Tita kaget begitu lift sampai di lantai tiga, tempat kami menginap. Lift ini seperti berhenti mendadak dan ada bunyi “GREEKKK” ketika pintu lift terbuka. “Ini hotel udah ada dari jaman dulu kali ya? Sampai renta gini lift-nya,” lanjut Teh Tita berkomentar sambil menarik kopernya keluar dari lift.
“Mmmm kayaknya sih gitu teh,” lanjut gue ketika melihat koridor hotel didepan lift yang rasanya memang seperti kambali ke masa lalu.
Dinding hotel didominasi wana pink pucat dengan ornamen-ornamen kayu di dinding, lampu yang temaram, dengan langit-lngit yang berukir, kemudian terdapat meja-meja panjang berhiaskan vas berisi bunga plastik yang juga tampaknya datang dari masa lalu di sepanjang koridor. Setelah melewati beberapa pintu kamar, kami tiba di depan kamar 307, kamar yang akan kami tinggali selama 2 malam kedepan.
KREKK
Tempat tidur dengan kasur kapuk yang sudah cekung di samping jendela itu langsung berdecit ketika gue duduk. Otomatis gue langsung berdiri.
“Kegendutan Sha, kayaknya,” komentar teh Tita sambil menahan tawa.
Gue langsung menoleh ke arah Teh Tita dengan tatapan terluka. Gue kemudian langsung masuk ke dalam kamar mandi, dan merasa tertekan. Tema kamar mandi ini tetap datang dari masa lalu. Lantai dan dinding kamar madi berwarna hijau gelap, terdiri dari susunan tegel-tegel kecil. Heater melintang menyamping di bagian samping bawah kamar mandi, cermin oval di atas wastafel, dan bath-tub putih yang warnanya mulai menguning.
Oh please, gue hidup di zaman apa sih ya?

Gue bangun sedikit lebih pagi dari teh Tita demi mendapatkan teknologi wi-fi di lobby hotel. Setelah selesai mandi dan bersiap dengan semua perlengkapan tempur anti kedinginan, gue kemudian turun menuju lobby. Gue sempat kaget ketika sepintas melihat pemandangan di balik jendela kaca besar di lobby. Dengan wajah bengong serta tatapan takjub, gue tanpa sadar berjalan ke arah jedela kaca itu, yang menghadap danau di belakang hotel. Pemandangan dari lobby hotel kami ini cantik sekali. Dari jendela, gue bisa melihat pemandangan Danau luas yang agak tertutup kabut, dengan beberapa angsa sedang berenang dengan tenang. Tak hanya itu, danau cantik ini dilatar belakangi oleh sekumpulan pohon cemara tinggi dengan tumpukan-tumpukan salju memenuhi daun-daunnya. Belum lagi salju-salju tipis tampak turun menghiasi pemandangan pagi ini. Romantis.
Mantep nih kalau ada pacar. Tapi pertanyaannya adalah, SIAPA?!
Galau. Kemudian nangis bombay.
Tapi berhubung kini adalah masa yang penuh dengan teknologi, yang gue lakukan adalah galau, duduk di sofa, keluarin blackberry, kemudian nge-tweet.
Biasa deh, anak masa kini.
Hare geneee, nggak nge-tweet? Plis deh.

Fajar lewat.
Langsung senyum sok cool. Malu dong kalau ketauan lagi galau di Swiss.
“Lagi ngapain Sha?” tanya Fajar.
“Oh, browsing aja. Biasa, cari berita,”
BOHONG BANGET.

Setelah menyatap sarapan dengan menu english breakfast, kami langsung menuju bus dan memulai perjalanan menuju gunung Titlis.
HUJAN SALJUUU!
Memang keputusan yang tepat gue beli jaket anti angin dan anti basah. Di saat semua orang mengeluh karena coatnya jadi anyep karena kena hujan salju, gue dengan sotoynya malah main-main dengan si hujan salju yang menyenangkan ini. Kami kemudian masuk ke dalam untuk mengantri, sebelum bisa menaiki evolving cable car atau kereta gantung berputar, untuk mencapai puncaknya, yang berada di 3.200 m diatas permuakaan laut.
Setelah mencapai puncaknya, kami turun di sebuah bangunan yang terdiri dari beberapa lantai yang tersedia berbagai macam hal seperti studio foto, cafe, restoran, toko suvenir, gue es buatan, dan tentunya pintu menuju puncak gunung Titlis dengan salju abadinya. Kami kemudian diberikan waktu bebas untuk berfoto dengan pakaian tradisional swiss di counter studio foto, untuk memasuki gua es buatan, membeli suvenir, bermain salju di luar, atau sekedar minum kopi atau cokelat panas sambil menikmati pemandangan.
Bro, ini udah ada di puncak gunung Titlis, ya masa iya gw cuma ngendon didalam cafe sambil memandang salju. DIPANDANG AJA GITU TUH SALJU. Ya gue (dan Teh Tita tentunya) segera menuju ke lantai paling atas, dan keluar bersiap main salju.
Ketika sedang asik-asiknya foto dan main-main salju sambil gemetar kedinginan, Teh Tita tiba-tiba menghampiri gue dengan wajah panik.
“Sha, lo nggak apa-apa?”
“Hah, kenapa emangnya Teh?” Gue bertanya dengan bingung. “Nggak kenapa-kenapa kok,”
“Nggak pusing?” Teh Tita semakin mendekat. “Kecapekan ya? Apa kedinginan? Mau ke dalam aja?”
“Ya kedinginan sih, tapi ya nggak apa-apa, namanya juga salju,” jawab gue dengan tenang sambil kebingungan. “Emangnya kenapa sih Teh?”
“Itu…” Teh Tita menunjuk muka gue.
Dear Dasha, dapet salam dari mimisan.

Biasanya kalau gue mimisan (kalau di Jakarta sih biasanya karena kepanasan), Adam bakalan dengan sigap ngeluarin tisu dari tas gue dan menyumpalnya ke hidung gue. Awal-awal pacaran sih pakai adegan drama dulu, misalnya,
“Dasha, kamu kenapa? Kamu pusing? Kecapekkan? Aduh, aku harus gimana, kita pulang aja ya?”
Kemudian setelah terbiasa,
“Dash, kamu mimisan tuh, kepanasan ya? Ayo yuk cari tempat yang agak enak. Ini tisunya,”
Setelah dua tahun pacaran,
“Yah, mimisan Dash, ini tisunya, kamu lap gih, kita duduk dulu”
Setelah tiga tahun,
“Dash, kamu mulai mimisan tuh, lap dulu”
Akhirnya setelah empat tahun,
“Dash, meler tuh,”
….
Dasha, yurop nih Dash, YUROP. Inget.

Setelah puas bermain salju di gunung Titlis kami menuju Lucerne untuk mengunjungi Dying Lion monument, sebuah monumen pahatan berbentuk Singa yang sekarat di sebuah area dengan kolam yang luas. Katanya monument ini dibuat untuk memperingati tentara Swiss yang dibunuh secara missal pada masa revolusi Perancis. Sedikit wisata edukatif, dan sisanya tentu waktunya bagi ibu-ibu untuk shopping!
Gue agak kasihan sama ibu-ibu di tur ini sih sebenarnya. Kenapa? Karena ternyata ini adalah hari minggu, dan toko-toko tutup! Alhasil ibu-ibu ini super bete karena Cuma bisa bertandang ke beberapa toko souvenir yang kebetulan buka dan restoran. Tapi tutupnya toko-toko ini sama sekali bukan masalah bagi gue dan teh Tita. Karena yang kita butuhkan memang hanya restoran dan pemandangan di sekitar Lucerne yang tidak pernah tutup! 
Setelah makan di mcDonald’s (yang ternyata mahal banget di Swiss ), gue dan Teh Tita segera berjalan-jalan dan berfoto di sekitar pusat kota. Setelah sedikit berusaha, akhirnya gue dan Teh Tita menemukan sungai Reuss dan chapel bridge yang terkenal itu. Gue nyaris berlari menuju chapel bridge saking terharunya. Gue bukannya drama atau gimana, tapi ini karena Hendra, sang tour guide, tidak memberikan pesan-pesan dimanakah sungai Reuss dan chapel bridge berada. Bahkan pada awalnya gue tidak menyadari bahwa kami sudah melewati kedua tempat itu.
“Sha!” Teh Tita memekik dengan dramatis dengan satu tangan mengguncang bahu gue dan satu tangan yang lain menunjuk ke arah Sungai.
“Apaan, teh?”
“Itu bukan sih?” ujar Teh Tita sambil tetap menunjuk. “Itu chapel bridge, kan?”
Gue mengikuti arah tangan Teh Tita. Kemudian ikut terpekik sambil menitikkan air mata dan berlari ke arah chapel bridge (adegan dilakukan dalam gerak lambat alias slowmotion).
Cukup dengan dramanya.
Singkat cerita, gue dan teh Tita sudah menyusuri chapel bridge dan menikmati pemandangan di sekitar sungai reuss yang tampak cantik meskipun sedang diguyur hujan rintik-rintik. Sambil sesekali berfoto dengan latar sungai Reuss dan bangunan-bangunan di sekitarnya, gue dan Teh Tita berjalan berdempetan sembari mengagumi jembatan kayu cantik ini dan pemandangan yang mengelilinginya.
“Sha,” ucap Teh Tita tiba-tiba sambil tetap berjalan berdempetan dengan gue agar tetap hangat.
“Yes?” jawab gue tanpa mengalihkan pandangan dari balik lensa kamera. Kayaknya sayang banget kalau pemandangan cantik begini nggak diabadikan dalam foto. Maklum deh, belum tentu bisa dua kali ke Lucerne. Pas lagi peralihan winter ke spring pula.
“Dingin-dingin begini, pemandangan cantik begini, enaknya ngapain Sha?” lanjut Teh Tita.
“Duduk-duduk cantik sambil ngopi di pinggir sungai, terus foto-foto,” jawab gue sekenanya. “atau nemenin tante-tante, jadi fotografer kayak si Fajar tuh,” gue mengedikkan kepala gue ke arah Fajar yang tampak mengikuti para tante sambil membawa-bawa kameranya di seberang kami.
“hhhh,” keluh Teh Tita, tampaknya nggak puas dengan jawaban gue. “mental jomblo ya begini nih,”
Gue langsung menoleh, mengalihkan pandangan gue dari kamera dan menatap Teh Tita dengan tatapan nggak terima. “maksud el?!”
“Suasana begini tuh enaknya ya kayak kita gini nih, rangkul-rangkul manja di chapel bridge, sambil ngobrol ngalor ngidul, foto-foto lucu,” Teh Tita berhanti sejenak, sebelum kemudian melanjutkan, “tapi sama pacar,”
Lempar kamera, loncat ke sungai Reuss.

swiss comp

Turis Low-budget (part2)

Tinggalkan komentar

VENEZIA

Gue dan Teh Tita berada di perahu yang salah.
Cuma itu komentar gue mengenai perjalanan menaiki gondola untuk mengelilingi venice island siang ini. Well, mungkin gue belum bilang kalau hampir setengah dari peserta tur yang gue ikuti ini adalah pasangan pengantin baru, dan di Gondola yang hanya cukup untuk enam orang ini, gue dan teh Tita terjebak dengan dua pasang pengantin baru. Disaat gue dan Teh Tita saling sibuk mengambil foto satu sama lain dengan pemandangan venice island bagian dalam, dua pasangan yang berada satu perahu dengan gue malah asyik memandangi pemandangan sambil saling bersandar di bahu, atau membelai rambut, atau mengelus lengan, atau bergandengan tangan, atau bahkan mengecup kening, baru sesekali berfoto. Begitu gue dan Teh Tita menyadari pemandangan itu, kami langsung saling menggaruk lengan satu sama lain, sambil memandang kedua pasangan pengantin baru itu dengan penuh ingin.
Kalau ada Adam mungkin gue juga sedang usek-usek di belakang bahunya sambil mengendus wanginya yang menyenangkan. Itu memang hobi gue. Kalo kata Adam namanya ngetek.
…..
KENAPA JADI ADAM LAGI, DASHAA!
Rasanya pingin garuk-garuk lantai.
Jika tidak saling mengingatkan, mungkin gue dan Teh Tita sudah lompat dari Gondola dan nyemplung ke dalam air, kemudian jadi hantu penunggu gondola yang hobinya mengganggu orang bermesraan.
Puas mengelilingi venice island naik gondola, kami diajak untuk tur kilat memasuki gang-gang kecil dan padat yang berisi berbagai pertokoan di venice island. Kami sudah berjanji pada Hendra untuk tidak memisahkan diri di gang-gang sempit ini, karena memang semua jalanannya tampak sangat mirip dan susah dihafal. Hendra meminta kami untuk mengikutinya tur kilat di gang-gang ini, baru setelah kembali ke area Piazza san marco, yang merupakan titik pertemuan kami nantinya, kami bisa diberikan waktu bebas.
Setelah tur kilat yang memusingkan, gue dan Teh Tita berfoto-foto di sekitar Piazza San Marco, sebuah area luas semacam alun-alun kota yang berada di depan St. Mark’s Basilica dan Doges Palace sambil menikmati matahari sore (walaupun sambil berjalan berdekat-dekatan karena sengat dingin). Pada awalnya gue dan Teh Tita memang sempat berencana untuk memasuki St. Mark’s Basilica, namun ternyata gereja cantik di area Piazza san Marco ini sangat diminati oleh turis, dapat dilihat dari antrian panjang yang mengular di pintu masuknya. Akhirnya gue dan Teh Tita hanya bisa pasrah berfoto-foto dengan berbagai bangunan cantik di sana, dan berfoto bersama penduduk dengan kostum kerajaan dan topeng yang sangat unik atau anak-anak kecil dengan berbagai kostum menggemaskan.
Rupanya memang sedang ada semacam parade atau Karnaval di sana, sehingga para warga merayakan dengan menggunakan kostum-kostum kerajaan masa lalu, dan tentunya topeng khas venice yang terkenal. Gue dan Teh Tita memang sempat tergoda untuk memakai face painting seperti para penduduknya, tapi akhirnya batal karena lagi-lagi, berat di ongkos. 😥

collage_20131223111305717
*Random cuties from the festival <3*

1. TURIS LOW-BUDGET (part1)

Tinggalkan komentar

ITALIA

Pertama kali sampai di Fiumicino International Airport, gue langsung mengangkat koper gorila gue yang berwarna hijau lemon dengan sekuat tenaga, daya dan upaya. Untungnya koper ini sangat mudah dibawa. Terpujilah wahai engkau pencipta teknologi koper dengan 4 roda.
Akhirnya gue bergabung dengan peserta tur lainnya. Gue berdiri di sebelah teh Tita, seorang perempuan berusia 28 tahun dari Bandung, yang juga pergi sendirian. Ia akan menikah dua bulan lagi, karena itu dia memutuskan untuk pergi liburan dulu sebelum gerakannya menjadi terbatas setelah jadi istri orang, begitu alasannya.
Gue dan teh Tita punya komentar yang sama tentang bandara internasional ini. Bandara ini begitu diperhatikan, rasanya kok…. hampa.
Ini nggak ada hubungannya dengan status gue sekarang. Kampret.
Bandara ini rasanya terlalu kosong untuk sebuah bandara Internasional. Ya memang sih ini bukan bandara utama, tapi ini kan jam 11 siang.
Ya sudahlah terima saja.
“Semua sudah kumpul ya? Kita sekarang jalan ke bus,” Hendra, tour leader kami berbicara keras sambil melambaikan tangan. “Ayo semua ikut saya,”
Laki-laki dengan tubuh kurus, tidak terlalu tinggi dan berkulit sawo matang itu akhirnya berjalan di depan kami semua. Kami berjalan ke luar beramai-ramai menuju bus di parkiran.
Suhu 7°C menyambut kami begitu keluar dari ruangan.
Oh shit, coat untuk spring ini ternyata masih membiarkan suhu dingin menembus ke badan gue. Dan salahnya, gue hanya memakai dress lengan panjang dan leg warmer di dalamnya. Gue segera membebatkan syal yang tadinya gue ikatkan di tas, ke leher.
Gue dan teh Tita berjalan berdempet-dempetan menuju bus, dan segera lari masuk ke dalam bus setelah mendekatkan koper ke bagasi bus. Gue dan teh Tita yang hanya beda 5 tahun ternyata bisa nyambung dan ngobrol dengan enak. Kami langsung duduk berdua di dalam bus.
Senangnya bisa ada yang nyambung di tur ini.

Begitu semua peserta tur sudah duduk dengan tenang di dalam bus, Hendra segera memperkenalkan kami pada pengemudi bus yang akan menemani kami selama 10 hari di eropa. Namanya Luca. Pria kelahiran Italia ini berperawakan tinggi besar, dengan rambut dan janggut yang sedikit memutih, dan senyum yang sangat ramah.
“Selamat Pagi,” sapa Luca dengan aksen Italia yang sangat kental.
“Pagi!” balas para peserta tur yang tampak sangat bersemangat untuk memulai perjalanan hari ini.
Gue pun membalas sapaan Luca dengan penuh semangat. Tidak ada alasan untuk tidak bersemangat di hari pertama gue menjelajahi benua eropa.
Ini eropa, bro. YUROP!
Wahoooo!

***

Tujuan pertama kami di siang yang cerah ini adalah gereja St. Peter’s Basilica di Vatikan. Sesuai dengan perkiraan, gereja ini benar-benar megah. Gue tidak berhenti-berhentinya mengambil foto dengan kamera kesayangan gue sepanjang waktu kami mengitari gereja yang megah ini. Ukiran-ukiran dan patung-patung yang sangat detil pengukirannya ini memang mengundang decak kagum, cantik sekali. Puas mengagumi isi gereja, kami kemudian berfoto-foto di sekitar St. Peter’s square atau yang biasa disebut dengan Piazza san Pietro, yang luas. St Peter’s Square ini terletak di depan gereja St. Peter’s Basilica di Vatican. Area yang luas ini masih tertutup salju tipis di beberapa bagiannya, yang menggoda gue dan Teh Tita untuk memulai sesi berfoto.
Tak berlama-lama di Vatikan, kami kembali ke Roma untuk melanjutkan perjalanan menuju Colosseum. Bangunan yang pada awalnya dibangun sebagai Amphiteater berbentuk elips ini masih kelihatan kokoh dan megah meskipun beberapa bagiannya sudah tampak rusak karena gempa bumi. Sayangnya, lagi-lagi di sini kami juga nggak bisa berlama-lama. Akhirnya gue dan Teh Tita segera mengambil foto seperlunya di sekitar colosseum.
“Mau di fotoin?” seorang cowok bertubuh tinggi, berkulit agak cokelat dengan rambut pendek yang agak ikal, yang juga peserta tur kami menawarkan bantuan untuk mengambil foto kami berdua.
“Oh boleh,” Teh Tita menyodorkan kameranya. “Makasih ya,”
Cowok itu tersenyum sambil menerima kamera dari teh Tita.
“Sekali lagi boleh?” pinta gue sambil bergeser ke sisi lain colosseum.
Cowok itu tersenyum sambil mengangguk.
“Thank you!” ucap gue ketika cowok itu mengembalikan kamera Teh Tita. “Gue Dasha,” gue kemudian mengulurkan tangan untuk basa-basi mengajak kenalan.
“Oh, Fajar,” ia kemudian menyambut uluran tangan gue.
“Tita,” Teh Tita bergantian dengan gue, bersalaman dengan Fajar. “Sama siapa kesini Jar?” tanya teh Tita kemudian.
“Nah, pas tuh lo nanya,” Fajar menoleh ke belakang sesaat sebelum menjawab, “gue berdua aja sama nyokap, nemenin. Gue ke nyokap gue ya?”
“Oh, iya, iya, oke,” jawab gue dan teh Tita berbarengan.
“Lumyan tuh Sha, cakep juga,” komentar Teh Tita begitu Fajar sudah menjauh dari kami. “sayang, berondong,”
“Ih Teteh, udah mau nikah, juga,” ujar gue memperingatkan sambil tertawa.
“Makanya, berhubung gue udah mau nikah, sama elo aja,”
“Teh, plis deh, kita agak belom sehari gitu lho turnya, masa udah di jodoh-jodohin” jawab gue.
Alasan aja Sha, belum bisa move on aja lo.

Sarapan dua kali di pesawat tadi pagi ternyata cukup untuk mengisi perut gue sebagai bahan bakar salama jalan-jalan siang di Roma. Terbukti sejak mendarat, gue cukup hanya melahap setengah potong sandwich (yang besarnya nyaris sebesar bantal bayi), berbagi dengan teh Tita dan bertahan sampai waktunya makan malam. Ini tentunya salah satu bentuk pengiritan, karena dalam satu hari, tur hanya menyediakan sarapan di hotel dan makan malam. Yah, konsekuensi tur low cost. Memang sih tadi siang gue sempat nongkong-nongkrong lucu sambil makan es krim gelato (yang super ngeri enaknya) di dekat Trevi Fountain (sebuah air mancur indah dengan oranmen ukiran dan patung-patung yang terletak di distrik Trevi), tapi jajan es krim sih kan bentuk pengeluaran yang masih manusiawi. Jadi masih nggak apa-apa laaah, masih aman buat kantong. 
Hendra memberikan waktu bebas selama 1 jam untuk foto-foto di sekitar Trevi Fountain, berbelanja souvenir atau bahkan memborong sepatu-sepatu kulit buatan italia yang terkenal kuat itu. Pilihan gue dan teh Tita tentunya adalah foto-foto, dan juga makan es krim sambil duduk-duduk di Trevi Fountain. Gue dan teh Tita juga menyempatkan diri untuk melemparkan koin di air mancur itu, karena ada legenda atau mitos yang menyatakan bahwa kalau kita melemparkan koin di Trevi Fountain, maka nantinya kita akan bisa kembali ke Roma. Jadi, nggak ada salahnya dicoba.
Begitu waktu bebas sudah habis, kami berkumpul di sebuah tempat yang sudah disetujui sebelumnya. Begitu gue sampai di tempat itu, gue agak shock sih sebenarnya. Yang membuat gue shock adalah, KENAPA TANTE-TANTE INI BELANJA BANYAK AMAAT?! Gue nggak paham gimana caranya orang-orang ini bisa belanja segini banyak dalam waktu 1 jam. Bahkan ada yang udah beli sepatu boots kulit sedengkul. Dan udah dipakai. Dan di kantongnya ada 2 pasang lagi. Ya silahkan aja sih mau belanja banyak-banyak, tapi kalo menurut gue si ya, BUAT APAAN BOOTS KULIT BANYAK-BANYAK?! Semacam di Jakarta ada musim dingin aja.
Kalau alasan Tante A sih, “Kan kita selama tur ini butuh, sayang, nanti kalau nggak pakai boots kedinginan lho. Biar tetep gaya juga kan kalau foto,”
Alasan Tante B lain lagi, “Tur kita lama lho, kalau nanti ternyata sepatunya jebol, kan ribet kalau harus beli-beli lagi,”
Kalau alasannya buat tur ini boleh aja sih, YA TAPI KAN CUMA 10 HARI WEEEYYYY.
Gue kurang paham sih.
Sepertinya Fajar juga begitu. Karena ketika gue melihat ke arah dia, wajahnya tampak bingung dan tertekan setelah menemani ibunya dan dua orang tante lain berbelanja. Ia kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya ketika bertemu mata dengan gue.
Gue tertawa pelan.

Tur low cost gue yang serba kilat ini cukup menyenangkan sebenarnya. Terbukti walaupun badan remuk setelah naik pesawat belasan jam dan langsung dilanjutkan dengan tur keliling Roma dan Vatikan, gue tetap bisa kembali ke hotel untuk istirahat dengan senang. Di kamar hotel, gue dan Teh Tita sibuk tertawa-tawa mengomentari hasil foto siang tadi.
“Muke lo nggak di kontrol amat itu Sha! Hahahahahaa” Teh Tita mengomentari foto gue yang tampak sebal karena ada orang menghalangi gue foto di depan Spanish step.
“Lah itu teteh, nggak santai amat jilat es krim!” blas gue smbil berjalan menuju kamar mandi. “Gue mandi duluan ya teh,”
“Gih, gue sih nggak mau mandi,” balas Tes Tita sambil tetap melihat-lihat foto di kamera.
“Idih najong,” Gue menyambar handuk dan langsung mandi air panas.
Indah banget rasanya, mandi air panas setelah seharian berpegal-pegal ria menteng kamera dan jalan-jalan. Rasanya nggak mau selesai mandi. Tapi teriakan Teh Tita dari luar kamar mandi menyadarkn gue.
“Dasha, gue tidur ya! Lo juga cepetan tidur, besok morning call jam 6 lho, ini udah jam 12!”
“Yaa,” balas gue dari dalam kamar mandi. Gue segera mengeringkan badan dan memakai baju tidur, kemudian membereskan kembali koper setelah mengeluarkan baju yang akan di pakai besok pagi. Inilah yang paling malesin dari ikut tur, kita harus bongkar dan merapikan koper setiap malam karena harus pindah-pidah hotel hampir setiap hari.
Tapi nggak apa-apa, malam ini gue semangat beres-beres, karena besok gue akan kemana?
PISA!

***

“Bu, kalau mau beli souvenir nanti di dalam juga ada kok, sekarang ikuti saya dulu ya!” Hendra segera memperingati ibu-ibu peserta tour yang tampak seperti tersedot magnet toko souvenir, dan tanpa sadar langsung masuk ke dalamnya.
Setelah diperingati Hendra, para ibu penganut belanja ini akhirnya keluar dari toko souvenir sambil terkikik-kikik.
Gue dan Teh Tita hanya bisa melihat dengan bingung. Maksud gue, kita kan hari ini mau ke menara Pisa. MENARA PISA. Dan kenapa yang mereka pikirkan hanya seputar souvenir. Teh Tita hanya mengedikka bahu ketika gue menunjukkan pandangan heran padanya.
“Yuk Sha!” Senggol Teh Tita ketika kami memasuki Cathedral Square.
Kesan pertama gue setelah melihat bangunan-bangunan di Cathedral Square ini adalah: SUPER GEMES! Entah ini perasaan gue doang atau gimana, tapi menara Pisa yang gue pikir bakal besar, tinggi dan super megah tenyata nggak se-gigantis yang gue bayangkan. Bahkan lebih berkesan kecil dan gemes. Rasanya seperti di tempat yang tidak nyata.
Teh Tita segera menarik tangan gue ke arah hamparan rumput hijau di sekitar bangunan-bangunan di sana. Awalnya gue sempat ragu karena ada larangan menginjak rumput. Tapi akhirnya gue tetap memasuki area rumput karena turis lain tampaknya menganggap peringatan itu tidak ada.
Jadilah gue dan Teh Tita mulai berfoto-foto dengan liarnya tanpa memedulikan orang-orang di sekitar kita.
“Gue mau pura-pura dorong Pisa, Sha!” ujar Teh Tita, sementara gue mengarah-arahkan kamera agar Teh Tita tampak seperti medorong menara pisa.
“Gue mau kaya ketiban Pisa dong teh,” Gantian gue yang bergaya dan teh Tita yang menjadi fotografer.
“Mau difoto berdua?”
Gue dan Teh Tita menoleh. Fajar sudah ada di belakang kami, sendirian.
“Nyokap mana?” tanya gue sambil memandang berkeliling.
“Belanja souveir sama tante-tante yang lain,” jawab Fajar. “biasa, deh. Sini kameranya,”
Gue akhirnya menyerahkan kamera gue kepada Fajar. Kemudian kami bertiga mulai bergantian saling foto, dan saling mengarahkan gaya. Sesi foto gue, Teh Tita dan Fajar akhirnya selesai setelah Fajar dipanggil oleh ibunya untuk menjadi fotografer para Tante. Koleksi kami dari mulai foto manis a la turis, sampai foto-foto dengan gaya tak beradab dan tak tau malu. Ini disebabkan cahaya matahari yang cerah dan membuat gue dan Teh Tita tampak fotogenic. Yaah, maklum deh jarang-jarang fotogenic, begitu sekalinya fotogenic, tentunya harus dimanfaatkan semaksimal mungkin dong! 😉
Setelah puas dengan sesi foto, gue dan teh Tita berencana mengisi perut dengan sesuatu yang murah meriah tentunya! Akhirnya pilihan kami jatuh pada sebuah restoran kecil, mungkin lebih tepat disebut snackbar, yang menjual berbagai pasta dan pizza. Gue memesan tagliatelle dengan saus tomat dan daging cincang, sementara teh Tita memesan penne dengan saus pesto. Untuk minum? Tentunya sebotol cola untuk berdua.  Hidup manusia pengiritan!
Melihat saus pesto warna hijau di piring Teh Tita mengingatkan gue pada Adam. Apapun pasta yang dia makan, kalau ada pilihan saus pesto, pasti langsung dia pilih.
Lah kok? Kenapa jadi Adam?! Ade ape?!
By the way, Adam itu nama mantan gue yang tadi gue ceritakan. Ia tidak terlalu tinggi, yaah tinggi laki-laki Indonesia pada umumnya lah. Badannya proporsional, tidak terlalu kurus, tidak gendut, tapi juga tidak berotot mengerikan. Rambutnya cepak pendek, kulitnya putih. Rapi.
Duh, Dasha… Masih aje. Lo tuh udah sampe ke dataran eropa, Dash. Yurop nih, YUROP.
Plis deh.

Prolog (dasha)

Tinggalkan komentar

 

Nurunin tas dari kabin dengan mata setengah terbuka itu ternyata nggak segampang yang gw bayangkan. Bisa membahayakan tangan sendiri dan nyawa orang lain jika terjadi kesalahan pada saat menurunkan. Apalagi dengan tinggi badan gue yang sekedarnya ini, pergerakan gue semakin terbatas. Tapi setelah berjuang dengan segenap keterampilan menurunkan barang, akhirnya tas gue (yang beratnya seberat dugong), mendarat diatas kaki dengan selamat tanpa melukai oranglain. Gue kemudian berjalan keluar dari pesawat dengan kesusahan.

Rasanya badan gue setengah remuk setelah perjalanan selama kurang-lebih 10 jam dari Jakarta menuju Istanbul, Turki. Selain badan gue yang remuk, poni rata gue yang awalnya mengembang sempurna, kini mulai lepek. Mata gue rasanya super kering, softlense gue rasanya bisa loncat keluar dari mata kapan saja, saking keringnya mata gue. Sayangnya perjalanan ini masih belum selesai. Setelah turun di Atatürk International Airport  untuk ganti pesawat, gue masih harus nunggu sekitar 2 jam untuk melanjutkan perjalanan menuju Roma.

Ya, Roma. Roma, Italia.

Wuedeileeeehh, gaya banget yee gue tiba-tiba ke Roma.

Tujuan utama gue sebenarnya adalah Belanda. Di sana gue akan menetap selama 2 bulan lebih dengan maksud untuk mengasuh keponakan gue yang baru lahir beberapa bulan lalu. Tapi akhirnya dengan modal tekad dan kerja rodi serabutan selama beberapa bulan setelah lulus plus mengemis dengan penuh iba pada Ibu, gue berhasil mengumpulkan uang untuk membayar tur ekonomis ke eropa selama 10 hari. Walaupun disana gue pasti akan jadi manusia paling irit.

Bodo amat.

 

Akhirnya setelah menunggu 2 jam, gue berjalan kembali menuju pesawat. Entah kenapa semuanya terasa ribet ketika gue berjalan. Yah mungkin selain karena gue menggerai rambut panjang gue yang bergelombang, gue juga membawa satu postman-bag untuk membawa semua perintilan gue plus laptop, menenteng coat, dan tas kamera. Belum lagi koper gue yang gedenya ngga wajar (untung ngga perlu dibawa-bawa selama transit). Kapasitas 30 kg yang diberikan Turkish Airlines benar-benar gue manfaatkan. Koper sebesar gorila itu gw isi dengan baju gue (yang nggak seberapa banyaknya), titipan kado untuk keponakan dari keluarga, sampai makanan-makanan semacam abon sapi, abon cabe, rendang, teri kacang dan bawang goreng.

Sebenarnya Ibu memaksa gue untuk membawa juga buku kuliah gue, mengingat doi sepingin itu gue ikut ujian seleksi program profesi Psikologi Klinis Anak dalam empat bulan kedepan. Tapi gue ngotot memohon-mohon supaya gue ikut ujian berikutnya aja (sebenarnya ini Cuma alasan gue untuk menunda-nunda entah sampai kapan, karena gue nggak sepingin itu ambil profesi).

Kenapa gue nggak mau?

Yaaah, sebenarnya memang nggak ada yang salah dengan ngambil profesi. Apalagi profesi klinis anak. Kayakya prospeknya bagus untuk masa depan. Ditambah gue suka anak-anak. Jadi harusnya pilihan gue dan Ibu ini tepat.

Masalahnya kapasitas otak gue yang cuma sebesar cangkir espresso ini sekarang sudah hampir luber dengan permasalahan hidup gue yang culun. Super culun.

 

Yah, memang sih gw nggak bisa mengelak kalau salah satu alasan gw ngotot mau jalan-jalan dulu sebelum jadi baby sitter adalah gw baru putus. Dan gue butuh refreshing.

Culun kan?

Oke gue tau ini terkesan drama banget, karena alasan gue jalan-jalan ke eropa adalah patah hati. Tapi ini bukan sembarang patah hati. Gue pacaran 4 tahun, dari akhir-akhir tahun pertama gue kuliah, sampai, yaaah kira-kira beberapa minggu yang lalu. Alasan gue putus? Tidak ada lagi excitement diantara gw dan dia. Tidak ada lagi deg-degan setiap mau ketemu. Tidak ada lagi usaha lebih untuk ketemu atau bahkan sekedar telepon ketika sedang sama-sama sibuk. Sibuk means no calls, no messages, no bbm plus no usaha juga. Pasrah aja nunggu weekend dan dia akan datang ke rumah gue, nonton opera van java, ketawa-ketawa berdua, makan di rumah, that’s it.

Gue bahkan sudah lupa rasanya siap-siap dandan mau kencan sama pacar. Baju rapi dan make-up hanya gue pakai untuk ke kantor dan pergi sama teman-teman. Gue rasa dia juga sudah lupa kalau di punya baju pergi selain baju kantor dan baju rumah. Bisa dilihat dari celana pendek dan kaos yang dia pakai untuk ke rumah gue plus baju kantornya kalau kita sempat ketemuan sepulang kantor. Pada awalnya gue sering, bahkan hampir setiap weekend, ngajak dia pergi ‘kencan’. Sekedar jalan-jalan, makan, atau nonton. Yaaah, tipikal ‘kencan’ yang mentok-mentok bisa dikerjakan oleh kita. Tapi dia hampir selalu menolak. Alasannya? Capek.

Awalnya gue terima-terima aja. Tapi lama kelamaan gue mikir dong, ‘anak ceceret mencret semacam gue dan dia bakalan sesibuk apa sih di kantor? Sampai-sampai weekend udah sama sekali ngga punya tenaga buat ketemu pacar’. Bete. Gue juga kerja, juga capek, tapi gue masih semangat kalau inget weekend bakal pergi sama pacar. Akhirnya setelah lebih dari sebulan usaha ngajak kencan gue itu sia-sia, gue tidak mau berusaha lagi. Gue pasrah aja dengan jadwal malam minggu dia ke rumah gue dan nonton tv. Mau dateng, mau ngga, bodo amat. Gue rasa gue bisa bilang kalau sekitar 2 sampai 3 bulan terakhir gue sebagai pacar dia, tidak ada kegiatan ‘pacaran’.

NAH TERUS LO NGAPAIN SAMA DIA?!

Kira-kira begitu pikiran gue teriak-teriak sebelum akhirnya gue memulai pembicaraan sampai akhirnya kita memutuskan untuk pisah. Awalnya gue pikir karena tidak ada excitement lagi antara gue dan dia, maka keputusan kita untuk pisah nggak akan terlalu menyakitkan. Ternyata sama aja. Sedih juga. Sakit juga. Pengen kabur juga.

Dengan latar belakang ini akhirnya sampai juga gue disini, Turkish Airlines, dalam perjalanan menuju Roma, dengan poni lepek dan mata kering.

 

kebanyakan tidur bikin pusing

1 Komentar

kemarin gue merasa gue terlali banyak tidur.

abis nonton song4campnya anak 2008, tidak lama kemudian gue pun pulang ke kosan. tetapi entah deh megapa, begitu sampe kosan badan gue ngga enak. lalu gupun memutuskan untuk ah sudahlah mungkin baiknya gue tidur saja.

dan tidak lama kemudian, gue tidur. lebih tidur daripada apapun. padahal smua orang masih bergosip sampe tengah malem, sementara gue tertidur dengan belum ganti baju.

rasanya gue UGD. UDAH GENGGES DEPEK.

ditengah malam gue bangun bentar dan kamar gue kosong. ngga ada orang.

ternyata pas gue keluar, shandy.sharah.smita adadiluar lai bergosip-gosip aduhai tanpa khdiran gue. tapi men, gue ngantuk bnget dan pada akhirnya yang gue lakukan adalah dadah-ddah dari jendla dan kemudian kembli tidur.

paginya gue bagun jam setengah 8 pagi dan gue PUSING. gue nggak tau apa yang salah, lalu setelah gue pikir-pikir lagi, kayanyafaktor kebanyakan tidur deh yang bikin pala gue pusing. tapi gue tdak menyangka setelah gue mandi pagi, rasany segaaar sekali.

dan shandy bilang diriku seperti bidadari.

mulai sekarang gue akan mandi setiap pagi.

*yang artinya tidak akan ada perubahandalam hiup gue.

ahhh, ga ada penting2nya postingan gue yang ini. maafin gue, plis abis tetep jadi temen gue yaah

Older Entries