Juli 11, 2008

cerita bersambung eps.2

Karina

    “Huff… akhirnya selesai juga,” ucap Karina sambil menghela nafasnya lelah. “untung gue ngerjain sendiri, kalo anak-anak itu yang ngerjain pasti belum selesai. mungkin malah belum selesai,”

     Ia lalu membereskan semua barang-barangnya dan beranjak dari perpustakaan. Dengan segala kerepotannya ia memasukkan barang-barang kedalam tasnya di meja penitipan tas. “Terimakasih yah Pak,” ia mengangguk pada penjaga tas dan kemudian melangkah keluar dari perpustakaan.

    Tiba-tiba dilihatnya Fajar, Stiza, Andrette dan Sashi berjalan kearahnya sambil tertawa-tawa, dan tampaknya tidak sadar bahwa Karina sedang berjalan ke arah mereka. Karina segera menundukkan wajahnya dan pura-pura sibuk dengan handphonenya agar tidak perlu menyapa mereka ber-4.

    Liat tuh. gumam Karina dalam hati. bukannya ngerjain tugas malah ketawa-ketawa. palingan dari kantin tuh, makan sambil ngegosip, ngomongin yang nggak penting. Emang dasar anak-anak populer nggak punya otak. ngeksis aja yang dipikirin, biar keliatan sama semua orang. tugas kuliah malah ditelantarin. gila.

Fajar

    Sambil menutup tas ranselnya yang sedikit terbuka, Fajar terbahak mendengar banyolan Stiza dan timpalan-timpalan Andrette tentang dosen mereka. Ia lalu merapikan kertas-kertas hasil kerjanya yang ditumpuk diatas laptop yang ditentengnya. Sekilas ia melihat Karina didiepannya sedang sibuk mengutak-atik handphone yang dipegangnya. entah sibuk, atau hanya pura-pura. ia hendak memanggilnya sebelum,

    “Karina!” Stiza berteriak memanggil Karina dengan gembira sambil melambaikan tangannya. Suatu hal yang sangat jarang terjadi.

    Karina mendongak dengan wajah yang datar, cenderung malas. ia hanya mengerutkan dahinya tanpa mengucapkan satu kata pun.

    “Dari mana aja? tadi kita nyariin lo loh,”  lanjut  Sashi.

     “Perpus,” jawab Karina singkat.

     “Ngapain?” tanya Andrette sambil mengerutkan dahinya heran.

     “Ya ngerjain tugas yang dikasih Pak Ruslan tadi siang,” jawab Karina dengan wajah jutek yang sama.

     “Lo ngerjain sendiri?” potong Fajar kaget.

     Karina mengangguk.

     “Terus udah selesai?” tanya Fajar lagi.

     Karina kembali menganggukkan kepalanya.

     Mata ketiga gadis disebelah Fajar kontan melebar kaget.

     Stiza melipat kedua tangannya. “lo tau kan kalo itu tugas kelompok? kenapa lo ngerjain sendiri?”

     Sashi mengangguk menyetujui. “lo pikir kita nggak mau ngerjain, apa?! gila kali ya,”

     “Dan untuk informasi,” Andrette kemudian menarik berkas-berkas dari tangan Fajar dan menunjukkannya pada Karina. “barusan kita ngerjain tugas kelompok kita sampe selesai. dan kita nggak bisa ngehubungin lo. HP lo dimatiin,”

     “Lo nggak bisa kerja dalam kelompok atau gimana sih?” keluh Stiza lagi, tampak kesal.

     Fajar kemudian berusaha menengahi teman-temannya. “Ya udah, kan yang penting udah selesai. sekarang kita duduk dulu deh, kita satuin dua jawaban yang udah kita bikin, gimana?”

     Karina hanya mengangkat bahunya dengan wajah dingin.

     “Tapi Jar…”

     “Lo mau kerja keras kita semua kebuang sia-sia?” potong Fajar sebelum Sashi akan menyelesaikan kalimatnya. “Nggak kan?” ia kemudian tersenyum. “Ya udah, sekarang kita ke kantin yuk, kita duduk, terus kita satuin dua jawaban kita, oke?”

 

…bersambung

Juli 11, 2008

ceritabersambung eps.1

Karina
    Karina menaruh semua kertas-kertas yang dibawanya ke atas meja perpustakaan paling pojok, paling jauh dari kerumunan orang. ia sengaja melakukan itu untuk menghindari kebisingan orang-orang sering cekikikan tanpa maksud yang jelas didalam perpustakaan. paling tidak itu menurut karina. Ia kemudian duduk dikursinya, lalu memandang bahan-bahan untuk tugasnya. ia mendesah pelan.

    Kenapa sih, nggak ada orang yang bisa bantu gue buat nyelesein semua tugas-tugas ini? pikir Karina dalam hati. Padahal ini kan tugas kelompok, tapi lagian kalaupun gue mohon-mohon sama mereka untuk ngerjain tugas ini, palingan mereka cuma bisa duduk ngelingker disekitar gue, terus ngegosip-ngegosip nggak jelas.Apalagi sekarang gue sekelompok sama Shandy, Stiza, Sashi, Fajar. geng ceria nggak penting itu. kerjaan mereka ngegosipin senior lah, ngebahas makanan kantin lah, curhat-curhatan masalah pacar lah. emangnya mereka pikir gue mau ngedengerin mereka apa? nggak penting banget deh. mendingan gue ngerjain ini semua sampai selesai, terus langsung kumpulin. lagian juga mereka pasti seneng kan, kalo tanpa ngerjain tugas mereka tetap dapat nilai?

    Perlahan ia lalu mengeluarkan alat tulis dari tempat pensilnya, lalu menguncir kuda rambut lurus indahnya yang tadinya tergerai sepunggung. Dibenarkan posisi kacamatanya, lalu ia mulai sibuk berkutat dengan tugas-tugas kuliahnya.

Fajar
    Keluar dari ruang kelasnya yang terletak di lantai 3 Gedung C, Fajar menoleh kekanan dan kiri. dicarinya teman-teman sekelompoknya agar mereka bisa langsung diajak untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosennya. Tapi ia hanya melihat 3 teman sekelompoknya. Andrette, Sashi, dan Stiza.

    “Hei!” panggil Fajar pada ketiga temannya.

    Mereka lalu melambai pada Fajar dengan maksud agar Fajar menghampiri mereka.
     Fajar kemudian berjalan kearah 3 gadis yang tampak populer itu sambil membenarkan posisi tas ranselnya. ia kemudian melanjutkan. “loh, kok cuma bertiga? Karina mana?”
    Ketiganya hanya dapat menggeleng.

    “Tadi sih ada di kelas, tapi begitu pada keluar, dia langsung kabur!” jelas Stiza sambil membuka permen lollipop yang dipeganya.

    Shandy mengangguk. “Padahal kita tadinya mau ngajakin gabung biar kita bisa ngomongin dulu pembagian tugasnya,” lanjut Shandy membenarkan sambil tangan kanannya tak bisa berhenti memilin rambutnya.

    “Dan lo harus tau,” ucap Sashi sambil mengutak-atik handphonenya. “tadi sebelum kelas selesai, gue tuh udah coba bikin pembagian tugas dan jadwal kita ngerjain tugas. gue juga sesuaikan dengan jadwal kuliah kita kok!”

 Fajar mengangguk. Tapi dalam hatinya ia berpikir. kenapa Karina pergi secepat itu ya? mau ngapain? apa dia ada kelas lagi? Tapi harusnya sekarang udah nggak ada kuliah, udah sore gini.
    Fajar sekilas menggaruk-garuk dagunya. Atau jangan-jangan yang dibilang anak-anak bener, kalo Karina nggak bisa diajakin buat kerja kelompok?

 ”Jar!”
 Fajar terbangun dari lamunannya.

“Ya?”
    “Sebelum kita ngerjain tugasnya, mau nggak sih kita makan duluu?” ujar ketiga temannya. “Kita lapeeerr!!”

    Fajar mendengus tertawa melihat tingkah mereka. “Ya udah… Yuk?”

bersambung…

Juli 11, 2008

Bagaimana kalau gue menjadi cinta laura?

Sore ini gue buru-buru berhenti onlen dari kampus dan segera pulang bersama teman-teman seperjuangan barelia. Alasannya?

MAU NONTON SINETRON TERBARUNYA CINTA LAURA

Oke. Anggap kami freak. Tapi itu alasan terjujur dari dalam hati. Nggak ada alasan lain, sumpah demi apapun juga.

Dan akhirnya kami nangkring dikosan caca dan mengambil posisi paling enak didepan tipi untuk menonton sinetron ‘upik abu dan Laura’. Dan sejak sinetron baru mulai, banyak sekali kalimat yang keluar dari mulut kami. Apapun bisa dikomentarin dalam sinetron itu, terutama si cinta laura sendiri. Beruntunglah cinta laura karena teman-teman gue termasukdalam orang-orang seperti gue. Yang awalnya tertekan dengan kehadiran cinta laura dan kegiatan berehidupannya, tapi lama-lama bisa menerima kenyataan dan malah menganggap semua hal yang dilakukan cinta laura adalah sesuatu yang lucu dan polos.

Tapi lalu gue berfikir akan tanggapan orang-orang yang memang udah nggak suka aja sama cinta laura. Pokoknya ya nggak suka! Mau dia ngapain aja, pokoknya salah! Kenapa salah? Karena dia cinta laura! Oh men. Kasar sekali.

Gue turut sedih akan apa yang terjadi pada cinta laura.

Lalu gue kembali berfikir.

Gimana kalo cinta laura adalah gue?

Ya, yang ngomong udah ujyan , nggak ada ojyek, becyek, itu gue.

Yang suka makan fresh fruit itu gue

Yang punya masalah gastrovascular itu gue

Yang jadi model video clipnya mulan jameela itu gue

Yang dicaci maki orang banyak itu gue?

Astaga nggak kebayang.

Gimana yah perasaannya cinta laura waktu tau semua orang nyela logat bule nanggungnya itu? Gimana yah perasaannya waktu disindir-sindir sama semua pembawa acara invotainment, gimana yah perasaannya waktu ketemu orang yang dia nggak kenal dan mereka ngikutin gaya bicaranya? Gimana yah dengan segala kehebohan tentang dirinya itu dia tetap bisa dapat nilai sangat baik disekolahnya? Gimana yah, perlakuan teman-teman sekolahnya terhadap dia?

Kalo gue adalah cinta laura, apakah gue bisa seperti dia?

Gue agaknya terharu sama kehidupan cinta laura yang keras ini.

Oke, kembali pada kehidupan kita yang nyata. Gimana yah, kalo dibalik kesuksesan yang kita dapetin selama ini, semua orang ngatain kita. Semua orang nganggep hasil kita ini nggak berarti. Hampir semua orang nyela apa yang ada dalam diri kita. Padahal didepan kita orang itu manis.

Sedih ya?

Jadi tolong, kalo ada sesuatu yang salah pada diri gue, tolong dibahas langsung aja dengan gue, siapa tau gue bisa menerima itu dan mengubahnya menjadi suatu hal yang lebih baik buat banyak pihak. (yah walopun hidup gue tidak menyangkut banyak pihak).

Terimakasih yah untuk semua orang dalam hidup gue yang bisa menerima gue apa adanya.

btw, peran cinta laura di film barunya agak lebay tapi pas banget buat dia.

Hugs and kisses,

Astari nuralina

Juni 28, 2008

Gue a**i*, hah, Ardi?! [sebuah kisah perjumpaan pertama]

Ketika pertama kali masuk kuliah dan briefing PSAU, dia duduk disebelah gue ketika berkumpul dengan kelompok. Dan kakak friendster gue menyuruh kita semua berkenalan. Semua disuruh mengingat nama teman sekelompoknya masing-masing. Nah, ketika gue disuruh untuk menanyakan nama teman yang duduk disebelah gue, gue menoleh kekanan dengan wajah sok ramah berlebihan. “Halo, nama lo siapa?”

“A**i*” dia menjawab dengaan menggumam.

“Siapa?”

“A**i*”

“Hah?!”

“A**i*”

“Oh… oke,”

gue menyeringai. Padahal gue juga nggak tau sebenernya anak ini namanya siapa. Abis ngomong kok menggumam. Ya udahlah, berhubung yang gue denger Cuma huruf a dan I, gue asumsikan saja namanya Ardi. Dan begitu gue proklamirkan keseluruh kelompok bahwa lelaki berukuran luar biasa besar disebelah gue ini bernama ARDI.

Dan anak itu bahkan tidak mengelak.

Dan gue langsung berbangga hati. Artinya gue benar!

Tetapi kemudian pada saat diedarkan kertas untuk menulis nomor handphone masing-masing, gue melihat bahwa nama diatas nama gue, bukanlah Ardi, melainkan Ardit. Ya ilaaak… gue malu bener dah. Tapi stay cool ajaa. Berasa tadi gue nyebut Ardit bukan Ardi. Ya bodo amatlah.

Lagian gue pikir nih anak tengil amat sih. Sok misterius gitu. Dari awal kumpul dieeeeeem aja. Lalu gue berfikir. ‘aduh, jangan-jangan nih anak gagu, bukan sok cool’. Lalu gue merasa sangat bersalah telah berfikir buruk tentang anak gagu ini.

Lalu disebuah rapat angkatan di balairung, ketika gue sedang bercengkrama dengan teman-teman baru gue (gadis-gadis pops diluar busuk didalam), ada seorang cowok berbadan besar seperti beruang, berdiri didepan sebuah mobil kuda bewarna biru, sambil mendengarkan ipod. Parakh bentuknya sok asik gila-gilaan. Gue langsung idih ini orang siapa sih. Nggak nyangka ada yang sok asik gini diangkatan gue.

Dengan bodohnya gue dan teman-teman langsung saja bermain tebak umur. Yah kita nebak-nebak aja nih anak umurnya sebenernya berapa. Abis bentuknya agak nggak 17 atau 18t tahun aja gitu. Kita nebak-nebak kayaknya nih anak 24 tahun atau mungkin malah 32. Dan ketika kita ngumpul per kelompok lagi, ternyata si lelaki 32 tahun ini kembali duduk disebelah gue. Lalu gue berfikir lambat. Kok bapak-bapak ini duduk dikelompok gue? Setelah jeda beberapa saat, gue akhirnya menyadari bahwa si 32 tahun ini adalah Ardit. Kenapa gue bisa nggak sadar? Mungkin karena pada pertemuan sebelumnya gue nggak melihat muka dia dengan jelas. Dan anak ini mulai menekan kehidupan gue setelahnya. Dan dia bicara! Ya ampun gue terharu karena ternyata dia tidak gagu.

Dan ternyata juga dia sekelas dalam tiap mata kuliah dengan gue. Astaga. Dan dari sinilah gue tau bahwa Ardit yang kini lebih dikenal dengan Tegenk akan menghantui hidup gue.

Hei men. Tapi tegenk bukan hantu kok. Haha.

Salam anak hantu!

Juni 28, 2008

ketika menikah menjadi pilihan

Gue kepikiran menulis ini gara-gara gue terbangun pagi ini, berkegiatan, dan menonton semua infotainment yang mengatakan bahwa sebentar lagi masayu anastasian dan lembu clubeighties akan menikah.

Gue bingung. Emang kenapa sih, kok heboh amant? Orang bagus-bagus mau nikah,malah digosipin hamil.

Tapi bukan hal itu yang mau gue omongin sekarang.

Menurut gue, ketika cewek umur 24 menikah, itu bukan sesuatu yang bisa disebut menikah terlalu muda. Umur 24 gitu, ya memang udah saatnya buat menikah, kan? Yang gue heran adalh ketika nyokap gue datang pad ague kemarin pagi dan mengatakan bahwa si ceceu (yang suka bantu-bantu dirumah), akan MENIKAH setelah lebaran tahun ini. Oh mai gat. Umurnya baru akan menginkjak 20 tahun ini! Bahkan si teteh aja belum ada tanda-tanda akan menikah diumurnya yang ke24 ini.

Ya nggak apa-apa sih, kesiapan orang untuk menikah kan memang beda-beda dan nggak berantung sama umur. Tapi mungkin ini karena gue udah tau dia dari dulu umurnya masih berapa belas kali yaaah. Dan gue punya teman bernama Smita yang juga berusia 20 tahun, tetapi kelakuannyaaaaa. Nggak kebayang aja kalo dia menikah kayak gimana. Hahaha.

Beberapa hari yang lalu juga gue terlibat perbincangan bodoh tentang menikah bersama Shandy dan Sharah. Oh ya, sebelumnya gue Shandy dan Sharah memang lagi ngefans agak gila-gilaan terhadap 3 orang. Anggap saja namanya Ramayana, Robinson dan Matahari. Singkatnya, kita membayangkan kalo kita menikah dengan 3 orang toko busana tersebut. Agak bodoh aja, membayangkan menikah, punya anak sepertiapa, sampe ngebayangin nganter anak kesekolah.

Tapi kayaknya menikah emang nggak pernah lepas dari mimpi dan khayalan anak perempuan yah. bayangin aja, dari kecil aja anak perempuan udah main nikah-nikahan. Ngebayangin bakal kayak apa pernikahan kita nantinya, nikah sama siapa, kalo menikah anaknya bakalan kayak apa?

Kadang gue juga jadi berfikir. Apa laki-laki juga memikirkan hal-hal seperti itu?

 

Selamat menempuh hidup baru!

Juni 25, 2008

sunyi seepi seeendirii

Pagi ini tak ada sinar mentari, dan langit pun terlihat gelap mendung datang lagi. Dan aku berdiri diatas gedung yang tinggi memandang ramainya Jakarta yang menyambut pagi ini. Aku disini  sendiri. Mangapa aku disini, Jakarta pagi ini. [slank]

            Yaiyalah tak ada sinar matahari kan matahari adanya di depok. Saelah dah lebay bener yak. Hahaha jijik. Membicarakan tentang tidak adanya matahari, gue sama sekali menentang hal itu. Gue ngerasa hari ini panaaaaas banget. Astaga gue sampe langsung nutup jendela dan menyalakan AC. Padahal pagi ini merupakan hari yang menyegarkan. Bangun jam 7 pagi, ngulet-ngulet sampe setengah 8, bangunin tegenk si bapak gue itu yang mendadak sakit padahal harusnya kita menuju sponsor ngasih proposal. Tapi yasudah, masa orang sakit mau dipaksain?

            Dan gue segera saja mandi agar segar dan siapa tahu gue harus kekampus mengantar proposal bersama yang lain, tetapi ternyata eh ternyata, kata si mamih ga usah karena biar dirinya dan si kak dion yang alay maksimal itu yang nganter. Ya sudah, karena gue anak legowo dan agaknya mudah menyerah, gue biarkan saja dan gue berdiam saja dirumah menonton semua infotainment yang ada di tv.

            Apa segarnya pagi gue? Yang bagian mandinya aja sih yang seger, sisanya depek gara-gara hari ini panasnya naudzubillah.

            Ngomong-ngomong soal infotainment, hari ini beritanya beda-beda loh! Terharu biru banget nggak sih? Ada yang mengabarkan hasil sidang halimah, mayang sari hampir miskin, rumah di simprug golf disita. LOH TERUS APA BEDANYA, GILAK?! Headlinenya aja sih yang beda, isinya sih sama-sama jugaa.. capek.

            Ngomong-ngomong, gue masih was-was dengan nilai faal gue yang c- itu, yang pernah gue ceritakan dipostingan gue sebelumnya. Walopun gue kemaren udah agaknya mengemis pada mbak intan dosen kita tercinta (dan kata dia, dia akan baca lagi jurnal gue dan berusaha naikkin nilainya! YAAYY!!), tapi gue masih nggak tau gimana nasip nilai guee. Gue nggak apa-apa deh dikasih tugas lagi asal gue lulus faal. Sumpah gue nggak mauuu kalo harusngulang faal. Beraat banget kayaknya idup gue kalo gue harus belajar otak dan syaraf satu semester lagi.

 

Oke. Lupakan soal faal. Bosen.

 

            Gue nggak menyangka kehidupan liburan bisa sangat membosankan. Dari tadi yang gue lakukan hanyalah nangkring depan leptop. Ngapain aja gue lakuin. Nulis2, main diner dash, wedding dash, nanny mania, burger rush, semua deh sampe kapalan. Nonton tv sampe bosen. Nyisir sampe rambut gue ngembang kaya singa. Dan memakan keripik tempe sampe abis sebungkus! Astaga gue bentar lagi akan masuk ke gerbang 80kg!

            Tapi lagi-lagi tidak menyangka bahwa keripik tempe bisa menjadi cemilan menyenangkan! Sekaligus melestarikan kebudayaan kuliner Indonesia. Yailak gaya deh. Oh ya, gue nggak nyangka bahwa ada sinetron berjudul emang gue pikirin jam segini. Dan gue juga nggak menyangka kalo ketika gue mencolokkan cocolok herdrayer gue ke stopkontak, stop kontaknya meledak.

            Wah, hidup gue ternyata penuh kejutan yang tidak disangka-sangka!

            Dan gue juga nggak nyangka kalo gue nggak tau lagi mau ngomong apa sekarang. Jadi mungkin mendingan udahan aja kali ya, daripada gue melanjutkan tulisan ini dengan suatu ketidakjelasan kehidupan yang mungkin juga akan menekan kehidupan orang lain.

Tuh kan. GUE NGOMONG APAAN SIH?!

Ya baiklah. Sekian. sampai jumpa!

 

Ayo, hidup penuh kejutan!

Juni 24, 2008

kehidupan irene elfrida

berumur 19 tahun, menuju 20 ditahun ini. irene elfrida mulai merasa bahwa jati dirinya adalah seseorang yang menawan dan jumawah. agak sulit untuk dipercayai tapi ya sudahlah, lagi-lagi anggap saja semua hal yang gue katakan disini adalah kebenaran.

Irene, tinggal di pondok sawo di jl. margonda depok. kosan yang selama ini membuatnya mengamuk-ngamuk karena jam malamnya yang ketat berlebihan dan tidak diperbolehkannya laki-laki. kalo kita liat depan kosan irene, kita bisa lihat tulisan besar yang mengatakan,: KOST PUTRI, PRIA DILARANG MASUK. sementara kosan gue yang campur secara tidak tertulis mengatakan bahwa,: KOST CAMPUR, LAKI_LAKI SILAHKAN MASUK.

bagi irene si mamih yang bertugas sebagai mesin pencetak anak dalam silsilah kelurga besar arditya putra, dilarangnya laki-laki masuk kedalam kosan sangat mempersulit pekerjaannya itu. namun entah kenapa, tanpa mempedulikan hal-hal printilan seperti ini, anak-anaknya terus saja tercetak. mengherakan? memang tidak masuk akal.

tapi kini, mamih telah menemukan cinta yang terbaru. Tak lama setelah kesendiriannya, mamih bertemu dengan cahya, papi kita yang terbaru. si papi yang awalnya membantu membenarkanlaptop mamih, ternyata sekligus berhasil membenarkan hati mami. caelah dah. si papi ini tidak banyak omong, pintar dan baik hati. ini terbukti dengan keinginannya memperbaiki laptop gue tapi nggak kesampean. [mungkin lain kali ya Pi! :) ].

tapi ternyata kehadiran Papi tidak mempengaruhi kengototan mamih yang sangat menggelora sejak dahulu kala. satu-satunya orang yang bisa mengalahkan kengototan mamih hanyalah sharah. tapi untungnya nggak da sau orangpun yang mengidentikan mamih dengan kata-kata ngotot. mamih yang beruntung.

oh ya, belakangan ini mamih punya hobby terbaru yang agaknya menekan. yaitu mengSMSi semua orang orang dengan isi sms yang kurang lebih seperti ini:

teman2 sponsorship, mulai hari ini perusahaan yang tadi gue minta follow up jadi tanggung jawab kalian yah, sori berubah-berubah. tolong tiap minggu di follow up ya. semangat!

mmhh.. lafyu mamih.

gw juga udah bingung brcerita apalagi tentang irene elfrida. mungkin zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

itu keisha. gue juga pasti akan ceritakan tentang dia. haha. emak hantuku yang tersayang.

astari dan irene

 

itu gue dan irene. sudah ya, sampai jumpa! ci.luk.ba! muuah

Juni 24, 2008

cerita hidup isahdi askandar

Forever yooooouuuung.

Sadi memulai tulisan ini dengan mengharap ia akan muda selamanya. Lalu ia memutar-mutar badan  yeaah. Men lo tau ga? Ay tu penulis paling penurut di seluruh kakus.

Apasih sadi?

Tapi seorang laki-laki bernama isahdi askandar yang biasa dipanggil sadi ini cukup fenomenal kasehariannya bersama gue dan teman-teman psikojoy. Dia suka mengganggu irenelfrida yang lumayan menawan dan jumawa.

Nah yang nulis diatas adalah irene. Mungkin gue akan membahas tentang kegiatan berkehidupannya suatu hari nanti. Tapi untuk kali ini gue akan membahas tentang seorang laki-laki bernama Isahdi Askandar.

 

Lahir di Jakarta, 10 april 1989. Sadi merupakan anak pertama dari 2 bersaudara. Dia punya sorang adik perempuan bernama Alisa yang selalu dianiaya setiap ada kesempatan. Nampaknya adiknya adalah seorang gadis yang legowo dan juga berkepribadian menarik kalo dari cerita-cerita sadi. beda dengan kakanya yang berkepribadian ‘menarik’.

Disela-sela kegiatannya menganiaya alisa dirumah, ia terkadang masuk kuliah di fak. Psikologi UI. Dan herannya, diantara kegiatan berkehidupannya di depok, ia masih sempat-sempatnya menganiaya seorang gadis yang baik hatinya, santun perangainya, dan cemerlang otaknya yang tak lain tak bukan adalah astari nur alina. (sebenarnya nama gadis yang benar adalah irenelfrida, namun karena keegoisan dan kekerasan hati penulisnya, yang tertulis jadinya astari nur alina. –red)

Sabarlah, gue pasti akan ceritakan gadis yang bernama Irene elfrida ini. Sekarang, kita kembali pada Isahdi askandar.

Sadi punya sebuah band yang cukup terkenal dikalangan anak muda Jakarta. Namanya, The Early Days. Menarik? Tentu saja menarik. Karena ada sadi didalamnya. Sadi sangat senang membuat lagu untuk gue. Mungkin lebih dari 12 lagu tercipta untuk gue, nadanya berbeda, tetapi katakatanya tetap satu jua. Cuma: AAYY!! Begitu terus diulang sampai peingsan. Kadang-kadang pake apakabar, kadang-kadang ada cinta-cintanya. Gue tetap menghargai lagu apapun yang diciptakan Sadi untuk gue. Apalagi yang judulnya ‘jarum neraka’. Walaupun sampai sekarang gue nggak pernah tau apa isi lagu itu.

Sadi paling suka makan nasi di rumah. Jadi kalo diluar rumah, sadi tidak pernah makan nasi ia hanya makan lauuuuk saja. Saya tahu saya berlebihan. Tapi dimohon, percaya saja apa yang saya katakan. Oke? Terimakasih.

Kata Patsy (nama aslinya Priescha maishella, mungkin gue akan ceritakan tentang gadis lucu ini suatu hari), gue dan sadi itu mirip parasnya. Gue sampai detik ini masih belum menemukan titik kemiripan antara gue dan sadi. setelah sadi gondrong sekarang, patsy bilang sadi makin mirip gue.

ya udahla ya, emang mungkin harus diterima aja sarannya.

 

gue agaknya sekarang sudah kehabisan kata-kata mengenai isahdi askandar. jadi tunggu saja lanjutan kehidupan isahdi atau cerita hidup lain tentang teman-teman gue yang lain. untuk menutup cerita ini, gue sertakan sebuah pantun dari sadi:

astari suka metalika

kalo nangis matanya berkaca-kaca

kacamatanya merah menyala

ini blog yahud mohon dibaca

oya, berikut gue lampirkan foto gue dan sadi, silahkan simpulkan apakah gue mirip atau tidak dengannya.

astari dan sadi

 

salam gembira.

astarinuralinasumarna

Juni 24, 2008

PIO. [perasaan ingin online]

analisis kasus:

teori pembelajaran tidak terdapat dalam artikel, salah satu konsep pembelajaran yang berperan adalah motivasi, identifikasi kebutuhan pelatihan;knowledge based skills dan singular behavior skills.

ah tahi lah.

yah, tadi sekilas tentang presentasi yang dibawakan oleh Imel dan teman2. gue sendiri nggak ngerti sebenernya mereka ngomongin apa. maaf yah imel, nggak minat banget hari ini ge kuliah. beruntunglah ada mas Budi yang bisa membenarkan leptop gue dan membuat gue bisa online hari ini. laffyu mas!

disaat semua orang sibuk dengan kehidupannya masing2, aku mencintaimu lebih dari apapuuuunnnn… nyanyi. barusan itu smitak.

lupa dah gue mau nulis apaan. dasar bego.

jadi kalo pengembangan itu buat manager-manager? aaaah. apaan sih? kessel. ada sadi nih disebelah gue. seneng deh[pesan dari sadi]

bossen banget gue kuliah. eh iya, daripada bosen gue mau bercerita tentang kegiatan kebugaran gue dipagi hari yang aduhai indahnya ini.

Jadi gini, gue bangun jam 6 pagi lalu mandi dengan mata setengah terbuka, lalu memilih baju paling ngondoy biar nyampe kosan bisa beberes dengan leluasa. dan gue menunggu agi dan sharah yang akan bergabung bersama berangkat kedepok.

setelah sekitar 30menit perjalanan tol JORR yang penuh cecurhatan, akhirnya kita sampe juga di pondok latief tercinta. akhirnya setelah gue mendarat dan membereskan baang-barang penunjang gendt kedalam kulkas dan sharah memulai tidur paginya, gue segera saja menyingsingkan lengan baju dan mengguntng bungkusan superpell yang baru gue beli. menuangkan seenaknya dilantai kamar mandi lalu mulai menggosok lantai kamarmandi sambil nyurengnyureng. padahal nggak sebau yang dibayangkan kok sumpah. emang gue lebay aja kegitatan berkehidupannya.

Udah nih ya, udah selesai gue nggosek kamer mandi. lalu gue mengisi ember dengan air lalu menunangkan superell lagi kedalam ember. gue celupkanlah pel gagang yang juga baru gue beli. begitu sponsnya udah empuk, gue segera saja memeras dan mulai mengepel lantai kamar gue yang belum pernah gue pel sebelumnya. tapi tiap hari gue nyapu kok sumpah. setelah selesai, gue mencuci gelas dan sendok karena gue memang nggak punya piring aja dikosan. parakh durjananya gue.

akhirnya kegiatan kebugaran pagi gue selesai dan gue lanjutkan dengan leha-leha sesaat didepan kipas angin, dan gue selesaikan dengan keramas poni. SADI. sumpah sadi gapenting banget minta namanya ditulis. gue nggak ngerti lagi. sadisadisadisadisadisadisadisadisadisadisadisadisadisadisadi. puas sad? ah capek.

akhirnyague ganti baju, berangkat kuliah dan akhirnya disinilah gue, duduk mantengin leptop berasa paling intelek.

yasudalah kayanya udah harus mau masuk focusgroup untukmembahas masalah2 yang nggak pernah gue mengerti. sekian dulu kayanya untuk hari ini.

sampaijumpalagi.

ke amerika beli baju

selamat baca untukmu

muah. [pantun alay buatan sadi]

cupcup ahh.

ayy

Juni 23, 2008

hancurkan hatiku, jngan hancurkan poniku. eps.2

“Gue pengen pesen martabak mie deh,” ujar Stiza kemudian. “mau nitip sesuatu?”

            “Mau jus jambu pake lemon dong,” kata Sharah sambil mengeluarkan kartu.

            Stiza mengangguk. “ada yang lain?”

            Keempat temannya menggeleng. Stiza kemudian berjalan menuju tukang makanan dan memesan makan siangnya.

            “Siapa yang kalah?” lanjut Stiza setelah memeasan makanan dan duduk kembali bersama teman-temannya.

            “Yaah… liat aja siapa yang ngocok,” jawab Irene sambil menaikkan alisnya dan menganggukkan kepalanya ke arah Farik yang sedang menaruh rokoknya diujung meja, kemudian mulai mengocok kartu yang dipegangnya.

            “Iye, gue kalah…” gumam Farik. “Seneng banget sih Rene kalo gue kalah?”

            “Nggak apa-apa,” sahut Irene. “Cuma ada kepuasan batin aja. Hahaha…”

            Farik menggeleng-gelengkan kepalanya.

            Tiba-tiba angin berhembus kencang menerpa gadis-gadis itu. Segera saja rambut mereka semua mendadak berantakan.

            “Aduh, poni gue berantakan deh,” ujar Sharah sambil merapikan poninya dengan jari. Tiba-tiba ia mendengus tertawa. “Rene, poni lo naik semua tuh, udah kayak ibu pejabat,”

            “Hah! Aduh gawat,” Irene langsung merapikan poninya dengan sisir yang dibawanya.

            Tasha terkikik melihat kelakuan Irene.

            “Jangan ngetawain gue Tash…” ujar Irene tiba-tiba. “Poni lo belah 11 tuh,”

            “Hah?” tanpa banyak bicara, Tasha segera merapikan poninya yang dipotong rata diatas alis dengan jarinya. “sempurna kan sekarang?”

            “Martabak mie sama jus jambunya Mbak,” Mas Joni si tukang makanan tiba-tiba membuyarkan pembicaraan mereka.

            “Oh, iya Mas, makasih ya,” Stiza segera menerima makanan dari Mas Joni, dan memberikan jus jambu pada Sharah.

            “Eh Za, poni lo sekarang kok dijepit terus sih?” ujar Sharah tiba-tiba. “kalo nggak, pake bando,”

            “Habisnya,” jawab Stiza sambil memotong-motong martabak mie yang baru diterimanya. “poni gue sekarang udah gondrong, kalo dilepas udah nabrak-nabrak mata, nggak enak banget. Dan gue belom sempet ke salon,”

            “Sah elah,” Farik tiba-tiba ikut nimbrung. “potong poni aja pake di salon segala, gaya banget sih lo,”

            “Ya kalo gue jago motong poni kayak si Irene sih nggak apa-apa motong sendiri,” balas Stiza. “Cuma masalahnya, gue tuh pasti berantakan kalo potong poni sendiri. Jadi daripada poni gue luluh lantah, ya mendingan gue kesalon. Lagian kan Cuma goceng,”

            Farik mengangguk-anggukkan kepalanya. “Iya sih, mendingan jangan. Kalo yang jago motong poni aja hasilnya kayak gitu, gimana yang amatiran…”

            “Heh, maksud lo apaan Rik?” tantang Irene. “poni gue jelek, gitu?”

            “Nggak kok…” timpal Tasha dengan gaya yang lunglai seperti biasanya. “poni lo sempurna gitu…”

            “Tuh kan Rik? Tuh kan?” ujar Irene senang. “mana mungkiiin Tasha bohoong…”

            “Eeeh…” balas Farik. “Tapi gue ngerasa Tasha Cuma nggak mau nyakitin perasaan lo doang…”

            “Terserah deh Rik, terseraaahh… gue mah percaya sama orang jujur Rik, bukan yang kayak elo…” ucap Irene kemudian. “lama-lama naksir lo, sama gue,”

            “Lah,” Farik menginjak rokok dengan kakinya. “lo nggak tau, gue lagi nyiapin cincin buat ngelamar lo besok?”

            “Ya ampun Rik… romantis bangett…” Irene menggeleng-gelengkan kepalanya. “akhirnya setelah 19 tahun kita menjalin cinta, lo ngelamar gue juga…”

            “Lebay deh lo berdua lama-lama,” potong Sharah. “capek gue, sampe lo berdua jadian, gue ngakak sampe pingsan,”

            Tasha hanya terkikik, dan Stiza tetap konsentrasi pada makanannya.

            “Kapan nih mulai main?” lanjut Sharah. “lama-lama tuh kartu ilang gambarnya, kebanyakan lo kocok Rik,”

            Farik tersadar, kemudian segera membagikan kartu pada keempat temannya.

            “Jangan bengong mulu makanya kalo idup, Rik…” lanjut Irene sambil menyeringai. “isilah dengan kegiatan yang bermanfaat seperti membagikan kartu…”

            “Diem lo,” umpat Farik pada Irene. “bawel,”

 

.bersambung!