sebelumnya untuk informasi, agar tidak timbul fitnah yang merugikan siapapun, cerita2 yang ada dalam kategori ini hanyalah fiktif belaka. jika ada kesamaan cerita ataupun tokoh, merupakan ketidaksengajaan. terimakasih
ceritaberambung eps.3
Juli 11, 2008
cuma cerita saja Tinggalkan Komentar
Karina
perlahan karina mendongak dari kertas-kertas yang dibacanya tadi. dilihatnya sebentar wajah Fajar yang sibuk menjelaskan hasil tugas mereka pada ketiga temannya. ia langsung memalingkan wajahnya ketika Fajar balas memandangnya sambil menjelaskan.
“Nih anak ngapain sih?” pikir Karina. “kalo lagi ngejelasin tuh ya ngejelasin aja, nggak usah ngeliatin gue segala. lagian tanpa dia ngejelasin ke gue juga gue udah ngerti kok,” ia kemudian memperhatikan Fajar lagi. “sok kepinteran banget sih nih anak,”
Karina kemudian kembali pada ketas-kertas yang dipangkunya, dan mulai membacanya kembali satu-persatu. kemudian ia membaca mulutnya dan memotong Fajar yang sedang berbicara.
“Jar, sebenernya ngapain sih dijelasin lagi?” ucapnya. “kan kita udah nyelesain semuanya. tinggal disatuin doang. kalo harus ngebahas lagi kan buang-buang waktu,”
Fajar terdiam sejenak, kemudian mengangguk. “oh gitu, ya udah kalo gitu kita langsung satuin aja ya. nggak masalah kan?” ia menanyakan pendapat ketiga temannya yang lain.
Stiza, Sashi dan Andrette mengangguk serempak.
Fajar
“perasaan gue doang atau emang ada yang ngeliatin gue?” ia berkata dalam hati. perlahan ia memalingkan pandangannya dari Stiza, Andrette dan Sashi kepada Karina. dan benar saja Karina sedang memandangnya, namun Karina langsung memalingkan wajahnya. “ngapain yah tuh anak ngeiatin gue?” pikirnya. “apa ada yang salah sama muka gue? jangan-jangan gue…. gue nagapain yah?” ia mulai tidak fokus pada apa yang dikatakannya. “fokus Fajar, fokuss…”ucapnya pada diri sendiri dalam hati.
Sampai ucapan Karina menyadarkannya.
“Ya udah, Jar langsung ketik aja deh, daripada lama,” ujar Stiza dengan wajah yang datar dan menyebalkan.
Andrette mengangguk-angguk.
Sashi langsung menyalakan laptop Fajar yang dari tadi terabaikan. “lama lo Jar,” keluhnya sambil mengutak-atik laptop.
“Lo kenapa sih, daritadi kayanya nggak konsen banget? aneh deh,” ucap Andrette dengan wajah bingung. “biasanya lo nggak gini-gini banget.”
Stiza menoleh, menyadari kejanggalan yang terjadi. “iya deh, ada apa sih Jar sama lo?”
Fajar mengerutkan dahinya, juga bingung dengan yang terjadi pad dirinya. ia menengadah, dan melihat Karina sedang menatap lurus kearahnya dengan wajah datar yang sama.
.bersambung..
cerita bersambung eps.2
Juli 11, 2008
Karina
“Huff… akhirnya selesai juga,” ucap Karina sambil menghela nafasnya lelah. “untung gue ngerjain sendiri, kalo anak-anak itu yang ngerjain pasti belum selesai. mungkin malah belum selesai,”
Ia lalu membereskan semua barang-barangnya dan beranjak dari perpustakaan. Dengan segala kerepotannya ia memasukkan barang-barang kedalam tasnya di meja penitipan tas. “Terimakasih yah Pak,” ia mengangguk pada penjaga tas dan kemudian melangkah keluar dari perpustakaan.
Tiba-tiba dilihatnya Fajar, Stiza, Andrette dan Sashi berjalan kearahnya sambil tertawa-tawa, dan tampaknya tidak sadar bahwa Karina sedang berjalan ke arah mereka. Karina segera menundukkan wajahnya dan pura-pura sibuk dengan handphonenya agar tidak perlu menyapa mereka ber-4.
Liat tuh. gumam Karina dalam hati. bukannya ngerjain tugas malah ketawa-ketawa. palingan dari kantin tuh, makan sambil ngegosip, ngomongin yang nggak penting. Emang dasar anak-anak populer nggak punya otak. ngeksis aja yang dipikirin, biar keliatan sama semua orang. tugas kuliah malah ditelantarin. gila.
Fajar
Sambil menutup tas ranselnya yang sedikit terbuka, Fajar terbahak mendengar banyolan Stiza dan timpalan-timpalan Andrette tentang dosen mereka. Ia lalu merapikan kertas-kertas hasil kerjanya yang ditumpuk diatas laptop yang ditentengnya. Sekilas ia melihat Karina didiepannya sedang sibuk mengutak-atik handphone yang dipegangnya. entah sibuk, atau hanya pura-pura. ia hendak memanggilnya sebelum,
“Karina!” Stiza berteriak memanggil Karina dengan gembira sambil melambaikan tangannya. Suatu hal yang sangat jarang terjadi.
Karina mendongak dengan wajah yang datar, cenderung malas. ia hanya mengerutkan dahinya tanpa mengucapkan satu kata pun.
“Dari mana aja? tadi kita nyariin lo loh,” lanjut Sashi.
“Perpus,” jawab Karina singkat.
“Ngapain?” tanya Andrette sambil mengerutkan dahinya heran.
“Ya ngerjain tugas yang dikasih Pak Ruslan tadi siang,” jawab Karina dengan wajah jutek yang sama.
“Lo ngerjain sendiri?” potong Fajar kaget.
Karina mengangguk.
“Terus udah selesai?” tanya Fajar lagi.
Karina kembali menganggukkan kepalanya.
Mata ketiga gadis disebelah Fajar kontan melebar kaget.
Stiza melipat kedua tangannya. “lo tau kan kalo itu tugas kelompok? kenapa lo ngerjain sendiri?”
Sashi mengangguk menyetujui. “lo pikir kita nggak mau ngerjain, apa?! gila kali ya,”
“Dan untuk informasi,” Andrette kemudian menarik berkas-berkas dari tangan Fajar dan menunjukkannya pada Karina. “barusan kita ngerjain tugas kelompok kita sampe selesai. dan kita nggak bisa ngehubungin lo. HP lo dimatiin,”
“Lo nggak bisa kerja dalam kelompok atau gimana sih?” keluh Stiza lagi, tampak kesal.
Fajar kemudian berusaha menengahi teman-temannya. “Ya udah, kan yang penting udah selesai. sekarang kita duduk dulu deh, kita satuin dua jawaban yang udah kita bikin, gimana?”
Karina hanya mengangkat bahunya dengan wajah dingin.
“Tapi Jar…”
“Lo mau kerja keras kita semua kebuang sia-sia?” potong Fajar sebelum Sashi akan menyelesaikan kalimatnya. “Nggak kan?” ia kemudian tersenyum. “Ya udah, sekarang kita ke kantin yuk, kita duduk, terus kita satuin dua jawaban kita, oke?”
…bersambung
ceritabersambung eps.1
Juli 11, 2008
Karina
Karina menaruh semua kertas-kertas yang dibawanya ke atas meja perpustakaan paling pojok, paling jauh dari kerumunan orang. ia sengaja melakukan itu untuk menghindari kebisingan orang-orang sering cekikikan tanpa maksud yang jelas didalam perpustakaan. paling tidak itu menurut karina. Ia kemudian duduk dikursinya, lalu memandang bahan-bahan untuk tugasnya. ia mendesah pelan.
Kenapa sih, nggak ada orang yang bisa bantu gue buat nyelesein semua tugas-tugas ini? pikir Karina dalam hati. Padahal ini kan tugas kelompok, tapi lagian kalaupun gue mohon-mohon sama mereka untuk ngerjain tugas ini, palingan mereka cuma bisa duduk ngelingker disekitar gue, terus ngegosip-ngegosip nggak jelas.Apalagi sekarang gue sekelompok sama Shandy, Stiza, Sashi, Fajar. geng ceria nggak penting itu. kerjaan mereka ngegosipin senior lah, ngebahas makanan kantin lah, curhat-curhatan masalah pacar lah. emangnya mereka pikir gue mau ngedengerin mereka apa? nggak penting banget deh. mendingan gue ngerjain ini semua sampai selesai, terus langsung kumpulin. lagian juga mereka pasti seneng kan, kalo tanpa ngerjain tugas mereka tetap dapat nilai?
Perlahan ia lalu mengeluarkan alat tulis dari tempat pensilnya, lalu menguncir kuda rambut lurus indahnya yang tadinya tergerai sepunggung. Dibenarkan posisi kacamatanya, lalu ia mulai sibuk berkutat dengan tugas-tugas kuliahnya.
Fajar
Keluar dari ruang kelasnya yang terletak di lantai 3 Gedung C, Fajar menoleh kekanan dan kiri. dicarinya teman-teman sekelompoknya agar mereka bisa langsung diajak untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosennya. Tapi ia hanya melihat 3 teman sekelompoknya. Andrette, Sashi, dan Stiza.
“Hei!” panggil Fajar pada ketiga temannya.
Mereka lalu melambai pada Fajar dengan maksud agar Fajar menghampiri mereka.
Fajar kemudian berjalan kearah 3 gadis yang tampak populer itu sambil membenarkan posisi tas ranselnya. ia kemudian melanjutkan. “loh, kok cuma bertiga? Karina mana?”
Ketiganya hanya dapat menggeleng.
“Tadi sih ada di kelas, tapi begitu pada keluar, dia langsung kabur!” jelas Stiza sambil membuka permen lollipop yang dipeganya.
Shandy mengangguk. “Padahal kita tadinya mau ngajakin gabung biar kita bisa ngomongin dulu pembagian tugasnya,” lanjut Shandy membenarkan sambil tangan kanannya tak bisa berhenti memilin rambutnya.
“Dan lo harus tau,” ucap Sashi sambil mengutak-atik handphonenya. “tadi sebelum kelas selesai, gue tuh udah coba bikin pembagian tugas dan jadwal kita ngerjain tugas. gue juga sesuaikan dengan jadwal kuliah kita kok!”
Fajar mengangguk. Tapi dalam hatinya ia berpikir. kenapa Karina pergi secepat itu ya? mau ngapain? apa dia ada kelas lagi? Tapi harusnya sekarang udah nggak ada kuliah, udah sore gini.
Fajar sekilas menggaruk-garuk dagunya. Atau jangan-jangan yang dibilang anak-anak bener, kalo Karina nggak bisa diajakin buat kerja kelompok?
”Jar!”
Fajar terbangun dari lamunannya.
“Ya?”
“Sebelum kita ngerjain tugasnya, mau nggak sih kita makan duluu?” ujar ketiga temannya. “Kita lapeeerr!!”
Fajar mendengus tertawa melihat tingkah mereka. “Ya udah… Yuk?”
bersambung…
hancurkan hatiku, jngan hancurkan poniku. eps.2
Juni 23, 2008
“Gue pengen pesen martabak mie deh,” ujar Stiza kemudian. “mau nitip sesuatu?”
“Mau jus jambu pake lemon dong,” kata Sharah sambil mengeluarkan kartu.
Stiza mengangguk. “ada yang lain?”
Keempat temannya menggeleng. Stiza kemudian berjalan menuju tukang makanan dan memesan makan siangnya.
“Siapa yang kalah?” lanjut Stiza setelah memeasan makanan dan duduk kembali bersama teman-temannya.
“Yaah… liat aja siapa yang ngocok,” jawab Irene sambil menaikkan alisnya dan menganggukkan kepalanya ke arah Farik yang sedang menaruh rokoknya diujung meja, kemudian mulai mengocok kartu yang dipegangnya.
“Iye, gue kalah…” gumam Farik. “Seneng banget sih Rene kalo gue kalah?”
“Nggak apa-apa,” sahut Irene. “Cuma ada kepuasan batin aja. Hahaha…”
Farik menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tiba-tiba angin berhembus kencang menerpa gadis-gadis itu. Segera saja rambut mereka semua mendadak berantakan.
“Aduh, poni gue berantakan deh,” ujar Sharah sambil merapikan poninya dengan jari. Tiba-tiba ia mendengus tertawa. “Rene, poni lo naik semua tuh, udah kayak ibu pejabat,”
“Hah! Aduh gawat,” Irene langsung merapikan poninya dengan sisir yang dibawanya.
Tasha terkikik melihat kelakuan Irene.
“Jangan ngetawain gue Tash…” ujar Irene tiba-tiba. “Poni lo belah 11 tuh,”
“Hah?” tanpa banyak bicara, Tasha segera merapikan poninya yang dipotong rata diatas alis dengan jarinya. “sempurna kan sekarang?”
“Martabak mie sama jus jambunya Mbak,” Mas Joni si tukang makanan tiba-tiba membuyarkan pembicaraan mereka.
“Oh, iya Mas, makasih ya,” Stiza segera menerima makanan dari Mas Joni, dan memberikan jus jambu pada Sharah.
“Eh Za, poni lo sekarang kok dijepit terus sih?” ujar Sharah tiba-tiba. “kalo nggak, pake bando,”
“Habisnya,” jawab Stiza sambil memotong-motong martabak mie yang baru diterimanya. “poni gue sekarang udah gondrong, kalo dilepas udah nabrak-nabrak mata, nggak enak banget. Dan gue belom sempet ke salon,”
“Sah elah,” Farik tiba-tiba ikut nimbrung. “potong poni aja pake di salon segala, gaya banget sih lo,”
“Ya kalo gue jago motong poni kayak si Irene sih nggak apa-apa motong sendiri,” balas Stiza. “Cuma masalahnya, gue tuh pasti berantakan kalo potong poni sendiri. Jadi daripada poni gue luluh lantah, ya mendingan gue kesalon. Lagian kan Cuma goceng,”
Farik mengangguk-anggukkan kepalanya. “Iya sih, mendingan jangan. Kalo yang jago motong poni aja hasilnya kayak gitu, gimana yang amatiran…”
“Heh, maksud lo apaan Rik?” tantang Irene. “poni gue jelek, gitu?”
“Nggak kok…” timpal Tasha dengan gaya yang lunglai seperti biasanya. “poni lo sempurna gitu…”
“Tuh kan Rik? Tuh kan?” ujar Irene senang. “mana mungkiiin Tasha bohoong…”
“Eeeh…” balas Farik. “Tapi gue ngerasa Tasha Cuma nggak mau nyakitin perasaan lo doang…”
“Terserah deh Rik, terseraaahh… gue mah percaya sama orang jujur Rik, bukan yang kayak elo…” ucap Irene kemudian. “lama-lama naksir lo, sama gue,”
“Lah,” Farik menginjak rokok dengan kakinya. “lo nggak tau, gue lagi nyiapin cincin buat ngelamar lo besok?”
“Ya ampun Rik… romantis bangett…” Irene menggeleng-gelengkan kepalanya. “akhirnya setelah 19 tahun kita menjalin cinta, lo ngelamar gue juga…”
“Lebay deh lo berdua lama-lama,” potong Sharah. “capek gue, sampe lo berdua jadian, gue ngakak sampe pingsan,”
Tasha hanya terkikik, dan Stiza tetap konsentrasi pada makanannya.
“Kapan nih mulai main?” lanjut Sharah. “lama-lama tuh kartu ilang gambarnya, kebanyakan lo kocok Rik,”
Farik tersadar, kemudian segera membagikan kartu pada keempat temannya.
“Jangan bengong mulu makanya kalo idup, Rik…” lanjut Irene sambil menyeringai. “isilah dengan kegiatan yang bermanfaat seperti membagikan kartu…”
“Diem lo,” umpat Farik pada Irene. “bawel,”
.bersambung!