kata pengantar

2 Komentar

sebelumnya untuk informasi, agar tidak timbul fitnah yang merugikan siapapun, cerita2 yang ada dalam kategori ini hanyalah fiktif belaka. jika ada kesamaan cerita ataupun tokoh, merupakan ketidaksengajaan. terimakasih

ceritaberambung eps.3

Tinggalkan Komentar

Karina

perlahan karina mendongak dari kertas-kertas yang dibacanya tadi. dilihatnya sebentar wajah Fajar yang sibuk menjelaskan hasil tugas mereka pada ketiga temannya. ia langsung memalingkan wajahnya ketika Fajar balas memandangnya sambil menjelaskan.

“Nih anak ngapain sih?” pikir Karina. “kalo lagi ngejelasin tuh ya ngejelasin aja, nggak usah ngeliatin gue segala. lagian tanpa dia ngejelasin ke gue juga gue udah ngerti kok,” ia kemudian memperhatikan Fajar lagi. “sok kepinteran banget sih nih anak,”

Karina kemudian kembali pada ketas-kertas yang dipangkunya, dan mulai membacanya kembali satu-persatu. kemudian ia membaca mulutnya dan memotong Fajar yang sedang berbicara.

“Jar, sebenernya ngapain sih dijelasin lagi?” ucapnya. “kan kita udah nyelesain semuanya. tinggal disatuin doang. kalo harus ngebahas lagi kan buang-buang waktu,”

Fajar terdiam sejenak, kemudian mengangguk. “oh gitu, ya udah kalo gitu kita langsung satuin aja ya. nggak masalah kan?” ia menanyakan pendapat ketiga temannya yang lain.

Stiza, Sashi dan Andrette mengangguk serempak.

Fajar

“perasaan gue doang atau emang ada yang ngeliatin gue?” ia berkata dalam hati. perlahan ia memalingkan pandangannya dari Stiza, Andrette dan Sashi kepada Karina. dan benar saja Karina sedang memandangnya, namun Karina langsung memalingkan wajahnya. “ngapain yah tuh anak ngeiatin gue?” pikirnya. “apa ada yang salah sama muka gue? jangan-jangan gue…. gue nagapain yah?” ia mulai tidak fokus pada apa yang dikatakannya. “fokus Fajar, fokuss…”ucapnya pada diri sendiri dalam hati.

Sampai ucapan Karina menyadarkannya.

“Ya udah, Jar langsung ketik aja deh, daripada lama,” ujar Stiza dengan wajah yang datar dan menyebalkan.

Andrette mengangguk-angguk.

Sashi langsung menyalakan laptop Fajar yang dari tadi terabaikan. “lama lo Jar,” keluhnya sambil mengutak-atik laptop.

“Lo kenapa sih, daritadi kayanya nggak konsen banget? aneh deh,” ucap Andrette dengan wajah bingung. “biasanya lo nggak gini-gini banget.”

Stiza menoleh, menyadari kejanggalan yang terjadi. “iya deh, ada apa sih Jar sama lo?”

Fajar mengerutkan dahinya, juga bingung dengan yang terjadi pad dirinya. ia menengadah, dan melihat Karina sedang menatap lurus kearahnya dengan wajah datar yang sama.

.bersambung..

cerita bersambung eps.2

1 Komentar

Karina

    “Huff… akhirnya selesai juga,” ucap Karina sambil menghela nafasnya lelah. “untung gue ngerjain sendiri, kalo anak-anak itu yang ngerjain pasti belum selesai. mungkin malah belum selesai,”

     Ia lalu membereskan semua barang-barangnya dan beranjak dari perpustakaan. Dengan segala kerepotannya ia memasukkan barang-barang kedalam tasnya di meja penitipan tas. “Terimakasih yah Pak,” ia mengangguk pada penjaga tas dan kemudian melangkah keluar dari perpustakaan.

    Tiba-tiba dilihatnya Fajar, Stiza, Andrette dan Sashi berjalan kearahnya sambil tertawa-tawa, dan tampaknya tidak sadar bahwa Karina sedang berjalan ke arah mereka. Karina segera menundukkan wajahnya dan pura-pura sibuk dengan handphonenya agar tidak perlu menyapa mereka ber-4.

    Liat tuh. gumam Karina dalam hati. bukannya ngerjain tugas malah ketawa-ketawa. palingan dari kantin tuh, makan sambil ngegosip, ngomongin yang nggak penting. Emang dasar anak-anak populer nggak punya otak. ngeksis aja yang dipikirin, biar keliatan sama semua orang. tugas kuliah malah ditelantarin. gila.

Fajar

    Sambil menutup tas ranselnya yang sedikit terbuka, Fajar terbahak mendengar banyolan Stiza dan timpalan-timpalan Andrette tentang dosen mereka. Ia lalu merapikan kertas-kertas hasil kerjanya yang ditumpuk diatas laptop yang ditentengnya. Sekilas ia melihat Karina didiepannya sedang sibuk mengutak-atik handphone yang dipegangnya. entah sibuk, atau hanya pura-pura. ia hendak memanggilnya sebelum,

    “Karina!” Stiza berteriak memanggil Karina dengan gembira sambil melambaikan tangannya. Suatu hal yang sangat jarang terjadi.

    Karina mendongak dengan wajah yang datar, cenderung malas. ia hanya mengerutkan dahinya tanpa mengucapkan satu kata pun.

    “Dari mana aja? tadi kita nyariin lo loh,”  lanjut  Sashi.

     “Perpus,” jawab Karina singkat.

     “Ngapain?” tanya Andrette sambil mengerutkan dahinya heran.

     “Ya ngerjain tugas yang dikasih Pak Ruslan tadi siang,” jawab Karina dengan wajah jutek yang sama.

     “Lo ngerjain sendiri?” potong Fajar kaget.

     Karina mengangguk.

     “Terus udah selesai?” tanya Fajar lagi.

     Karina kembali menganggukkan kepalanya.

     Mata ketiga gadis disebelah Fajar kontan melebar kaget.

     Stiza melipat kedua tangannya. “lo tau kan kalo itu tugas kelompok? kenapa lo ngerjain sendiri?”

     Sashi mengangguk menyetujui. “lo pikir kita nggak mau ngerjain, apa?! gila kali ya,”

     “Dan untuk informasi,” Andrette kemudian menarik berkas-berkas dari tangan Fajar dan menunjukkannya pada Karina. “barusan kita ngerjain tugas kelompok kita sampe selesai. dan kita nggak bisa ngehubungin lo. HP lo dimatiin,”

     “Lo nggak bisa kerja dalam kelompok atau gimana sih?” keluh Stiza lagi, tampak kesal.

     Fajar kemudian berusaha menengahi teman-temannya. “Ya udah, kan yang penting udah selesai. sekarang kita duduk dulu deh, kita satuin dua jawaban yang udah kita bikin, gimana?”

     Karina hanya mengangkat bahunya dengan wajah dingin.

     “Tapi Jar…”

     “Lo mau kerja keras kita semua kebuang sia-sia?” potong Fajar sebelum Sashi akan menyelesaikan kalimatnya. “Nggak kan?” ia kemudian tersenyum. “Ya udah, sekarang kita ke kantin yuk, kita duduk, terus kita satuin dua jawaban kita, oke?”

 

…bersambung

ceritabersambung eps.1

3 Komentar

Karina
    Karina menaruh semua kertas-kertas yang dibawanya ke atas meja perpustakaan paling pojok, paling jauh dari kerumunan orang. ia sengaja melakukan itu untuk menghindari kebisingan orang-orang sering cekikikan tanpa maksud yang jelas didalam perpustakaan. paling tidak itu menurut karina. Ia kemudian duduk dikursinya, lalu memandang bahan-bahan untuk tugasnya. ia mendesah pelan.

    Kenapa sih, nggak ada orang yang bisa bantu gue buat nyelesein semua tugas-tugas ini? pikir Karina dalam hati. Padahal ini kan tugas kelompok, tapi lagian kalaupun gue mohon-mohon sama mereka untuk ngerjain tugas ini, palingan mereka cuma bisa duduk ngelingker disekitar gue, terus ngegosip-ngegosip nggak jelas.Apalagi sekarang gue sekelompok sama Shandy, Stiza, Sashi, Fajar. geng ceria nggak penting itu. kerjaan mereka ngegosipin senior lah, ngebahas makanan kantin lah, curhat-curhatan masalah pacar lah. emangnya mereka pikir gue mau ngedengerin mereka apa? nggak penting banget deh. mendingan gue ngerjain ini semua sampai selesai, terus langsung kumpulin. lagian juga mereka pasti seneng kan, kalo tanpa ngerjain tugas mereka tetap dapat nilai?

    Perlahan ia lalu mengeluarkan alat tulis dari tempat pensilnya, lalu menguncir kuda rambut lurus indahnya yang tadinya tergerai sepunggung. Dibenarkan posisi kacamatanya, lalu ia mulai sibuk berkutat dengan tugas-tugas kuliahnya.

Fajar
    Keluar dari ruang kelasnya yang terletak di lantai 3 Gedung C, Fajar menoleh kekanan dan kiri. dicarinya teman-teman sekelompoknya agar mereka bisa langsung diajak untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosennya. Tapi ia hanya melihat 3 teman sekelompoknya. Andrette, Sashi, dan Stiza.

    “Hei!” panggil Fajar pada ketiga temannya.

    Mereka lalu melambai pada Fajar dengan maksud agar Fajar menghampiri mereka.
     Fajar kemudian berjalan kearah 3 gadis yang tampak populer itu sambil membenarkan posisi tas ranselnya. ia kemudian melanjutkan. “loh, kok cuma bertiga? Karina mana?”
    Ketiganya hanya dapat menggeleng.

    “Tadi sih ada di kelas, tapi begitu pada keluar, dia langsung kabur!” jelas Stiza sambil membuka permen lollipop yang dipeganya.

    Shandy mengangguk. “Padahal kita tadinya mau ngajakin gabung biar kita bisa ngomongin dulu pembagian tugasnya,” lanjut Shandy membenarkan sambil tangan kanannya tak bisa berhenti memilin rambutnya.

    “Dan lo harus tau,” ucap Sashi sambil mengutak-atik handphonenya. “tadi sebelum kelas selesai, gue tuh udah coba bikin pembagian tugas dan jadwal kita ngerjain tugas. gue juga sesuaikan dengan jadwal kuliah kita kok!”

 Fajar mengangguk. Tapi dalam hatinya ia berpikir. kenapa Karina pergi secepat itu ya? mau ngapain? apa dia ada kelas lagi? Tapi harusnya sekarang udah nggak ada kuliah, udah sore gini.
    Fajar sekilas menggaruk-garuk dagunya. Atau jangan-jangan yang dibilang anak-anak bener, kalo Karina nggak bisa diajakin buat kerja kelompok?

 ”Jar!”
 Fajar terbangun dari lamunannya.

“Ya?”
    “Sebelum kita ngerjain tugasnya, mau nggak sih kita makan duluu?” ujar ketiga temannya. “Kita lapeeerr!!”

    Fajar mendengus tertawa melihat tingkah mereka. “Ya udah… Yuk?”

bersambung…

Bagaimana kalau gue menjadi cinta laura?

4 Komentar

Sore ini gue buru-buru berhenti onlen dari kampus dan segera pulang bersama teman-teman seperjuangan barelia. Alasannya?

MAU NONTON SINETRON TERBARUNYA CINTA LAURA

Oke. Anggap kami freak. Tapi itu alasan terjujur dari dalam hati. Nggak ada alasan lain, sumpah demi apapun juga.

Dan akhirnya kami nangkring dikosan caca dan mengambil posisi paling enak didepan tipi untuk menonton sinetron ‘upik abu dan Laura’. Dan sejak sinetron baru mulai, banyak sekali kalimat yang keluar dari mulut kami. Apapun bisa dikomentarin dalam sinetron itu, terutama si cinta laura sendiri. Beruntunglah cinta laura karena teman-teman gue termasukdalam orang-orang seperti gue. Yang awalnya tertekan dengan kehadiran cinta laura dan kegiatan berehidupannya, tapi lama-lama bisa menerima kenyataan dan malah menganggap semua hal yang dilakukan cinta laura adalah sesuatu yang lucu dan polos.

Tapi lalu gue berfikir akan tanggapan orang-orang yang memang udah nggak suka aja sama cinta laura. Pokoknya ya nggak suka! Mau dia ngapain aja, pokoknya salah! Kenapa salah? Karena dia cinta laura! Oh men. Kasar sekali.

Gue turut sedih akan apa yang terjadi pada cinta laura.

Lalu gue kembali berfikir.

Gimana kalo cinta laura adalah gue?

Ya, yang ngomong udah ujyan , nggak ada ojyek, becyek, itu gue.

Yang suka makan fresh fruit itu gue

Yang punya masalah gastrovascular itu gue

Yang jadi model video clipnya mulan jameela itu gue

Yang dicaci maki orang banyak itu gue?

Astaga nggak kebayang.

Gimana yah perasaannya cinta laura waktu tau semua orang nyela logat bule nanggungnya itu? Gimana yah perasaannya waktu disindir-sindir sama semua pembawa acara invotainment, gimana yah perasaannya waktu ketemu orang yang dia nggak kenal dan mereka ngikutin gaya bicaranya? Gimana yah dengan segala kehebohan tentang dirinya itu dia tetap bisa dapat nilai sangat baik disekolahnya? Gimana yah, perlakuan teman-teman sekolahnya terhadap dia?

Kalo gue adalah cinta laura, apakah gue bisa seperti dia?

Gue agaknya terharu sama kehidupan cinta laura yang keras ini.

Oke, kembali pada kehidupan kita yang nyata. Gimana yah, kalo dibalik kesuksesan yang kita dapetin selama ini, semua orang ngatain kita. Semua orang nganggep hasil kita ini nggak berarti. Hampir semua orang nyela apa yang ada dalam diri kita. Padahal didepan kita orang itu manis.

Sedih ya?

Jadi tolong, kalo ada sesuatu yang salah pada diri gue, tolong dibahas langsung aja dengan gue, siapa tau gue bisa menerima itu dan mengubahnya menjadi suatu hal yang lebih baik buat banyak pihak. (yah walopun hidup gue tidak menyangkut banyak pihak).

Terimakasih yah untuk semua orang dalam hidup gue yang bisa menerima gue apa adanya.

btw, peran cinta laura di film barunya agak lebay tapi pas banget buat dia.

Hugs and kisses,

Astari nuralina

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.